Surabaya - Pengamat gerakan Islam Indonesia dari IAIN Sunan Ampel Surabaya Dr KH Imam Ghazali Said MA berpendapat bahwa Syiah yang menjadi pemicu kerusuhan Sampang itu tidak sesat. "Saya sependapat dengan Abu Zahrah yang menulis buku 'Sejarah Mazhab dalam Islam' bahwa 'stempel' sesat dalam Islam itu sangat internal, karena mazhab dalam Islam memang banyak. Jadi, Syiah juga sama dengan kita yakni Islam tapi beda mazhab, bukan sesat," katanya di Surabaya, Senin. Alumni Khartoum International Institute Sudan (S2) itu mengemukakan hal itu ketika dikonfirmasi ANTARA tentang kontroversi sesat-tidaknya Syiah yang menyebabkan kerusuhan di Sampang, Madura, Jatim, pada 29-30 Desember 2011 dan 26 Agustus 2012. Menurut A'wan PCNU Kota Surabaya itu, sebagian amaliah keagamaan yang dilakukan Syiah memang terkesan "aneh" dalam pandangan non-Syiah, yakni shalat, maulid, taqiyah, dan mut'ah, namun hal itu sebagai konsekuensi dari "cinta" orang-orang Syiah kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib. "Perbedaan Syiah dengan Sunni adalah Syiah menganggap Abu Bakar, Umar, dan Usman merupakan sahabat nabi yang zalim, sedangkan Sunni mengakui empat sahabat nabi yakni Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali," tutur alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (S1) itu. Dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya itu menjelaskan Al Quran dan hadits yang dipakai Syiah juga sama dengan Sunni, tapi Syiah mempercayai Al Quran yang ada di tangan Ali bin Abi Thalib atau Al Quran dengan tafsir versi Ali. "Yang jelas, tafsir Al Quran memang banyak, tapi Al Quran-nya tetap satu. Soal hadits juga sama, karena mereka hanya menerima sesuatu dari Ahlul Bait, bukan dari lainnya. Jadi, perbedaan tafsir itu bukan sesat, karena tafsir yang berbeda juga bukan hanya Syiah," ujanya. Oleh karena itu, pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo, Surabaya itu menilai cara yang tepat untuk menyikapi perbedaan adalah dakwah yang sifatnya kompetitif antarkelompok dalam Islam. "Kalau ada kelompok yang kalah dalam merebut hati masyarakat yang menjadi objek dakwah, maka jangan lantas menuduh kelompok lain sebagai sesat, karena sama-sama Islam-nya tapi hanya berbeda mazhab," paparanya. Ditanya sebagian "keanehan" Syiah, ia mengatakan penganut Syiah dalam shalat selalu meletakkan tanah atau batu dari Padang Karbala di dekatnya untuk menunjukkan kecintaan kepada Ali dan keturunannya, tapi mereka tetap berpandangan bahwa shalat itu wajib. "Bahkan, penganut Syiah juga menggelar maulid, tapi maulid yang dilakukan bukan untuk nabi (maulid nabi), melainkan maulid untuk Ahlul Bait. Mereka juga melakukan 'taqiyah' atau menyembunyikan diri sebagai penganut Syiah dalam situasi minoritas, bahkan mereka bisa mengaku Sunni, padahal Syiah. Itu strategi," katanya. (*)
Berita Terkait
Pakar Unej: Kondisi domestik masih cukup kuat saat rupiah melemah
17 Januari 2026 16:15
Pengamat: Dialog presiden-rektor upaya mengintegrasikan dua sektor
15 Januari 2026 21:28
Pengamat sebut pilkada lewat DPRD tak jamin tekan ongkos penyelenggaraan
15 Januari 2026 17:17
Pengamat hukum Situbondo imbau DPR rumuskan perlindungan lansia
8 Januari 2026 20:32
Guru besar Unej dorong Indonesia bersikap atas agresi AS ke Venezuela
7 Januari 2026 12:53
TNGGP pastikan aktivitas Gunung Gede-Pangrango masih normal
6 Januari 2026 22:45
Pengamat optimistis Polri alami transformasi budaya signifikan di 2026
3 Januari 2026 09:31
Pengamat: Konflik Tiongkok-Jepang berdampak positif untuk Indonesia
25 November 2025 17:37
