Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Pengamat ekonomi dari Universitas Jember Adhitya Wardhono, PhD menilai bahwa konflik yang terjadi antara Tiongkok dengan Jepang dapat berdampak positif bagi Indonesia baik di sektor investasi maupun perdagangan.
"Jika eskalasi ketegangan kedua negara berlanjut, maka Jepang kemungkinan akan mengubah strategi investasinya dengan mencari pasar alternatif di Asia Tenggara, termasuk Indonesia," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa.
Menurutnya hal tersebut bisa meningkatkan aliran investasi langsung Jepang ke Indonesia, khususnya di sektor otomotif, elektronik, dan teknologi tinggi.
"Industri otomotif Indonesia bisa menjadi salah satu sektor yang diuntungkan dengan alih investasi dan relokasi pabrik dari Jepang," tuturnya.
Untuk itu, lanjut dia, Indonesia harus siap untuk menerima arus investasi ini dengan menciptakan lingkungan yang lebih ramah investasi melalui insentif dan penyederhanaan regulasi.
"Selain itu juga penguatan sektor SDM untuk memenuhi permintaan tenaga kerja dari perusahaan-perusahaan Jepang yang kemungkinan akan memperluas operasinya di Indonesia," katanya.
Menurutnya eskalasi ketegangan Tiongkok-Jepang bisa memiliki dampak ganda terhadap perdagangan Indonesia, terutama jika harga bahan baku dan komponen meningkat akibat gangguan pasokan dari Tiongkok dan Jepang.
"Namun, ini juga bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjadi pasar alternatif bagi produk-produk yang biasanya dipasok oleh Jepang dan Tiongkok, seperti komponen otomotif dan elektronik," ucap pakar moneter itu.
Adhitya menjelaskan, ketegangan antara Tiongkok dan Jepang selama tiga pekan November ini terjadi karena pidato PM Jepang Sanae Takaichi yang mengatakan bahwa Jepang bisa melakukan intervensi militer jika Taiwan diserang.
"Tentu itu tidak hanya berdampak geopolitik, tetapi langsung menyentuh stabilitas ekonomi Asia Timur dan global, mengingat kedua negara adalah kekuatan industri dan perdagangan terbesar di dunia, sehingga lazim sepertinya bandul hubungan Tiongkok-Jepang selalu berayun antara rekonsiliasi dan konflik selama ini," katanya.
Ia mengatakan, ketegangan antara Tiongkok dan Jepang juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar finansial, yang akan berdampak pada pasar saham dan nilai tukar mata uang.
Yen Jepang dan Yuan Tiongkok memiliki peran besar dalam perdagangan global dan keputusan investasi di seluruh dunia.
"Volatilitas mata uang dapat menciptakan ketidakpastian di pasar finansial, mempengaruhi arus modal, dan memicu arus keluar modal dari kawasan Asia, termasuk Indonesia," ujarnya.
Data Ekspor dan Impor Jepang dengan Negara-Negara Utama (2024); Ekspor Jepang ke Tiongkok: US$125 miliar; Ekspor Jepang ke AS: US$150 miliar; Impor Jepang dari Tiongkok: US$150 miliar (Sumber: UN COMTRADE)
"Fluktuasi ekonomi itu bisa menyebabkan capital outflows (arus modal keluar), memperburuk nilai tukar yen, dan berdampak langsung pada negara berkembang seperti Indonesia yang mengimpor barang elektronik, otomotif, dan semikonduktor dari Jepang," katanya.
