Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pengamat kebijakan dan politik dari Universitas Brawijaya (UB) Andhyka Muttaqin memandang dialog Presiden Prabowo Subianto dengan rektor dan guru besar di Istana Kepresidenan, Jakarta, menjadi bagian upaya mengintegrasikan pendidikan tinggi serta agenda pembangunan nasional.
"Pertemuan tersebut membuka ruang bagi kampus untuk mendengar pandangan strategis presiden secara langsung, khususnya pengintegrasian sektor pendidikan tinggi dengan agenda pembangunan nasional secara meluas," kata Andhyka di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis.
Melalui dialog itu diharapkan beberapa isu strategis yang dibahas, seperti penambahan jumlah dokter dan peningkatan kualitas perguruan tinggi bisa secepatnya menemukan solusi.
Dia menilai untuk pemenuhan 100 ribu dokter menjadi hal bersifat urgen lantaran jika terealisasi dampaknya mampu memberikan penguatan terhadap sektor kesehatan nasional.
Sedangkan untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi perlu fokus pada semua bidang, mulai dari kemampuan dosen hingga akses pembiayaan yang berpihak kepada mahasiswa maupun dalam rangka menghadirkan kualitas infrastruktur layak sebagai komponen pelaksanaan perkuliahan.
"Ini dalam rangka menggapai Indonesia Emas di 2045 dengan memposisikan pendidikan tinggi sebagai driver utama produksi sumber daya manusia berkualitas yang mampu menyokong pembangunan ekonomi, teknologi, dan sektor sosial. Ini mencerminkan orientasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia," ucapnya.
Dia menyatakan bahwa pertemuan antara presiden dengan rektor dan guru besar harus dilanjutkan dengan pembuatan kebijakan konkret, misalnya menyoal perumusan reformasi kurikulum, pembiayaan, hingga riset terapan. Pun demikian dengan kemitraan antara pemerintah dengan setiap perguruan tinggi di Indonesia.
Dengan langkah tersebut pertemuan ini akan memperbesar peluang penguatan koherensi kebijakan antara sektor pendidikan tinggi dengan agenda pembangunan nasional.
"Apabila hanya berhenti pada pernyataan arah tanpa implementasi nyata, maka pertemuan ini berisiko menjadi policy window yang terlewat," tuturnya.
Pertemuan yang diselenggarakan di halaman tengah Istana Kepresidenan dan berlangsung tertutup diikuti oleh sebanyak 1.200 tamu undangan.
Kepala negara turut menyampaikan taklimat berisi informasi terbaru mengenai kondisi di dalam negeri maupun situasi geopolitik di kawasan dan dunia, serta kaitannya dengan Indonesia.
