Madura Raya (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, Jawa Timur terus berupaya menekan kasus stunting di wilayah itu dengan pola penanganan terpadu dengan melibatkan lintas sektor dan berbagai instansi dinas terkait.
"Berkat pola penanganan terpadu ini, kasus stunting di Bangkalan bisa ditekan dengan baik," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Bangkalan Irman Gunadi di Bangkalan, Jawa Timur, Jumat.
Ia menjelaskan upaya menekan kasus stunting di Kabupaten Bangkalan kini bukan hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes), akan tetapi melibatkan semua dinas di lingkungan Pemkab Bangkalan.
Hanya saja, sambung dia, program yang dicanangkan oleh masing-masing dinas tersebut bukan dalam bentuk satu program, melainkan dalam bentuk saling mendukung.
Ia mencontohkan seperti yang dilakukan oleh dinkes dan Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman.
Dinkes mencanangkan program pada pola gerakan promosi hidup sehat oleh para kader pos pelayanan terpadu (Posyandu), sedangkan PUPR menekankan pada upaya penyediaan air bersih di desa atau kelurahan yang menjadi lokus stunting.
Selain itu, institusi lain, seperti polisi dan TNI juga turut berperan aktif dengan membantu kelancaran pelaksanaan program Posyandu dengan menggerakkan secara aktif personel yang ada di masing-masing desa dan kelurahan.
"Jadi pola kerja sama yang saling mendukung di lintas dinas dan institusi itu yang pada akhirnya berhasil meningkatkan penurunan kasus stunting di Kabupaten Bangkalan ini," katanya.
Sekda Irman Gunadi menuturkan sebelumnya Kabupaten Bangkalan berada di urutan ke-36 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, atau urutan kedua dari bawah dalam kasus stunting.
Akan tetapi, berkat upaya penanganan yang dilakukan secara terpadu itu, kini penanganan kasus stunting di Bangkalan mengalami peningkatan yang signifikan, hingga mampu menembus peringkat lima besar di Jawa Timur.
Angka stunting di Kabupaten Bangkalan awalnya sebesar 60 persen dan sejak 2024 turun menjadi 10 persen.
Upaya ini harus terus dipertahankan, bahkan diharapkan bisa mencapai nol stunting dengan melibatkan peran aktif pemerintah di berbagai tingkatan, baik di tingkat kabupaten, kecamatan hingga di tingkat desa dan kelurahan.
"Kunci keberhasilannya adalah peran petugas di desa, seperti kepala desa, camat, kader posyandu, serta penanganan masalah gizi yang baik oleh puskesmas, yang memegang peran penting dalam penurunan angka stunting," katanya.
Selain itu, para ibu hamil perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama dalam hal gizi dan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Setelah melahirkan, bayi harus diberi ASI, asupan gizi yang cukup, serta makanan tambahan. Selain itu, imunisasi dasar lengkap (IDL) juga harus diberikan.
Sementara itu, jumlah balita yang terdata menderita stunting di Kabupaten Bangkalan terdata sebanyak 959 anak, jauh lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1.500-an orang.
