Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Terpilih Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan potensi besar dalam pengembangan buah durian di Jawa Timur sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Durian, terutama jenis Musang King dan Black Thorn, memiliki peluang ekspor yang sangat menjanjikan, khususnya untuk memenuhi permintaan pasar di Tiongkok. Selain itu kebutuhan domestik saat ini delapan puluh persen kita masih import untuk jenis durian tersebut," kata Khofifah usai meninjau langsung Republik Durian Farm di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jumat.
Di kebun seluas satu hektare itu, berbagai jenis durian, termasuk Musang King, Black Thorn, dan Bawor, dibudidayakan dengan hasil yang melimpah. Di desa Ngaglik sendiri terdapat tiga farm sementara untuk jenis yang sama sedang dikembangkan di Wonosalam Jombang dengan luasan lebih besar.
Dalam kunjungannya, Khofifah berkesempatan untuk memanen langsung durian Musang King dan Black Thorn yang sudah matang di pohon.
Tak hanya itu, ia juga ikut serta bersama masyarakat dan sejumlah tokoh lokal dalam memecah durian Musang King dan Black Thorn.
Durian Black Thorn yang dibudidayakan di Republik Durian Farm memiliki ciri khas yang berbeda dengan durian jenis lainnya. Kulit durian ini berwarna hijau dengan duri berwarna hitam di ujungnya, serta pola bergambar bintang yang mencolok. Daging buahnya berwarna oranye dengan rasa yang manis dan legit.
“Saya ini durian lover. Hampir semua jenis durian sudah saya coba, dan durian Black Thorn ini menurut saya adalah yang terbaik, bahkan lebih enak dibandingkan Musang King,” ungkap Khofifah.
Khofifah juga mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu ia mengunggah foto dan video sedang membuka durian Black Thorn di media sosial, yang mendapat sambutan positif dari warganet, termasuk dari Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia.
“Dubes Tiongkok merespons positif, dan mereka menyampaikan minat untuk mengimpor durian dari Indonesia. Deputi Komersial dan Perdagangan Kedutaan Tiongkok bahkan langsung menanyakan tentang produk durian Black Thorn dan Musang King yang dikembangkan di Jawa Timur,” katanya.
Untuk itu, Khofifah menambahkan bahwa kunjungannya kali ini bertujuan untuk meninjau kapasitas produksi durian Musang King dan Black Thorn di Blitar, terutama saat musim panen.
Menurutnya, untuk memenuhi pasar ekspor, produk durian harus memenuhi tiga faktor penting yaitu kuantitas, kualitas, dan kontinyuitas.
“Saya yakin durian premium seperti Black Thorn dan Musang King sangat berpotensi untuk masuk pasar ekspor. Maka kunjungan ini Kami ingin memastikan bahwa kualitas dan kuantitas produk durian di sini saat peak season sampai seberapa,” ucapnya.
Khofifah juga mengungkapkan bahwa di masa depan, pengembangan durian premium di Jawa Timur akan semakin diperluas.
Ia berencana memanfaatkan lahan idle dan perhutanan sosial untuk meningkatkan luas penanaman durian, mengingat potensi ekonomi yang sangat besar.
“Karena peluang bisnisnya sangat menjanjikan. Satu hektar kebun durian dengan 100 pohon bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp2 miliar dalam waktu empat sampai lima tahun,” jelas Khofifah mengutip penjelasan Anna Luthfi pemilik farm.durian.
Karena itu, Khofifah optimistis bahwa sektor ini dapat berkembang pesat jika melibatkan lebih banyak pihak, seperti lembaga pengelola hutan desa (LMDH) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Kita bisa mengembangkan ini lebih masif, misalnya dengan menggandeng LMDH dan juga BUMDes. Satu desa dengan satu hektar kebun empat sampai lima tahun bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp 2 miliar,” tambah Khofifah.