Bojonegoro - Penyumbatan akibat sedimentasi di pintu pengeluaran dan penguras Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, Jatim, mulai bisa teratasi setelah dilakukan penyedotan dengan "dredger". "Pintu pengeluaran sisi kiri sudah bisa mengeluarkan air. Berarti sedimen yang menyumbat pintu pengeluaran air sudah bisa dibersihkan, " kata Kasi Operasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Hirnowo, didampingi stafnya, Hidayat, Jumat. Ia menjelaskan, penyedotan sedimen yang menutup dua pintu pengeluaran yang berdiameter 1,75 meter dan satu pintu penguras dengan panjang 2,10 meter, lebar 1,25 meter, berlangsung sejak 19 Desember lalu. Dipilihnya "dredger" sejenis kapal keruk, karena sedimen yang menutup pintu penguras dan pengeluaran tidak hanya lumpur, tapi juga kayu dan bahan material lainnya. "Peralatan dredger selain bisa menyedot sedimen, sekaligus bisa menghancurkan kayu, juga benda keras lainnya, " katanya menjelaskan. Ia mengatakan, pekerjaan penyedotan sedimen, di daerah pintu pengeluaran dan penguras yang tebalnya diperkirakan mencapai sembilan meter lebih, dilakukan selama 24 jam. "Ada 12 tenaga kerja yang bekerja siang dan malam, " kata Pengawas Waduk Pacal UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Arifin, menambahkan. Hirnowo lebih lanjut menjelaskan , pekerjaan penyedotan dengan peralatan "dredger", dengan kapasitas dua meter kubik/detik itu, ditangani kontraktor yang pernah menangani terjadinya penyumbatan sedimen di waduk setempat, pada 2010 lalu. "Targetnya dalam beberapa hari ini, terjadinya penyumbatan sedimen di Waduk Pacal sudah teratasi, " katanya. Sejauh ini, menurut Arifin, tidak ada permintaan air dari para petani yang masuk daerah irigasi Waduk Pacal di sejumlah desa di Kecamatan Kapas, Sukosewu, Sumberrejo, Kanor yang sekarang ini, menanam padi, setelah diketahui terjadi penyumbatan sedimen, pada 10 November lalu. Meski demikian, debit air yang ada di waduk setempat, besarnya tidak jauh berbeda dengan perolehan air pada tahun sebelumnya, karena pada musim hujan ini, jadwalnya memang air tidak dikeluarkan. "Tidak ada petani yang meminta pasokan air, karena kebutuhan air tanaman padi para petani di daerah irigasi Waduk Pacal memanfaatkan air hujan, " ucap Arifin. Sementara ini, ketinggian air pada papan duga di Waduk Pacal, mencapai 114,50 meter dengan debit sekitar 16 juta meter kubik. "Air Waduk Pacal baru dikeluarkan untuk irigasi tanaman padi pada April dan Mei, " kata Arifin menjelaskan. Waduk Pacal pada awal dibangun Belanda pada 1933, mampu menampung air hujan sebesar 42 juta meter kubik. Akibat, faktor usia dan banyaknya sedimen yang masuk ke dalam waduk, debit air yang bisa ditampung turun drastis hanya sekitar 23 juta meter, dengan daerah irigasi pertanian seluas 16.000 hektare lebih. (*)
Berita Terkait
Petani Belum Membutuhkan Air Waduk Pacal Bojonegoro
27 Maret 2012 07:35
Petani Bojonegoro Terancam Kesulitan Tanam Padi
20 November 2011 09:57
Dinas Pengairan Bojonegoro Tidak Penuhi Permintaan Petani
2 November 2017 14:53
Pemkab Bojonegoro Harapkan Warga Terima Harga Tanah untuk Waduk Gongseng
5 Oktober 2017 07:43
Kades: Warga Papringan Temayang Bojonegoro Minta Direlokasi
2 Oktober 2017 10:56
Debit Air Waduk Pacal Bojonegoro Bertambah
2 Oktober 2017 10:00
Warga Papringan Bojonegoro Bisa Terima Harga Tanah
21 September 2017 09:46
Tim Appraisal Tetapkan Harga Tanah Lokasi Waduk Gongseng
19 September 2017 20:04
