Kediri - Target pendapatan Terminal Pare, Kabupaten Kediri pada 2011 ini turun dibanding tahun sebelumnya dari semula Rp68 juta per tahun menjadi Rp64 juta.
"Keputusan itu dilakukan dinas (Dishub). Hal ini melihat potensi di terminal," kata Kepala Terminal Pare Gatot Santoso di Kediri, Kamis.
Ia mengatakan, jumlah penumpang angkutan umum tiap tahun turun. Warga lebih banyak menggunakan kendaraan roda dua untuk bepergian, dan enggan naik angkutan umum. Kondisi itu tentunya berpengaruh pada jumlah angkutan umum yang beroperasi.
Padahal, kata dia, karcis yang diberlakukan di terminal tidak terlalu besar. Untuk angkutan umum seperti "lyn" tarifnya adalah Rp200,00 sekali jalan, sementara untuk yang bus Rp300,00 sekali jalan.
"Kalau biasanya, angkutan umum bisa sampai lima kali lintasan, artinya dia mengelurkan uang hingga Rp1.000,00 di satu terminal. Begitu juga dengan bus, biasanya cuman tiga kali lintasan, karena jauh, jadinya ia mengeluarkan Rp900,00 di satu terminal," katanya.
Dia menampik, terminal di Kecamatan Pare ini kurang strategis, hingga target pendapatan juga minim. Terminal itu hanya dilewati tiga jalur bus, yaitu Kediri-Surabaya, Kediri-Malang, dan Blitar-Surabaya. Jumlah angkutan juga lebih sedikit ketimbang jalur angkutan umum lewat jalan provinsi.
Padahal, Kabupaten Kediri juga mempunyai terminal di Kecamatan Purwoasri, yang saat ini kondisinya terlantar dan hanya digunakan untuk uji kir.
Jalur di tempat itu, lebih strategis, karena banyak dilewati kendaraan umum, yaitu dari Trenggalek, Tulungagung, ke arah Surabaya. Jumlah angkutan juga lebih banyak daripada jumlah angkutan yang lewat di jalur Pare.
Ia mengatakan, terminal saat ini sudah jauh lebih ramai daripada sebelumnya. Ia meminta, seluruh pemilik perusahaan oto bus harus masuk ke dalam terminal.
"Saat ini lebih ramai daripada yang lalu. Kami telah buat kebijakan, seluruh angkutan umum baik MPU maupun bus harus masuk terminal," katanya.
Sementara itu, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kediri, Subur Santoso mengatakan jumlah angkutan umum tiap tahun memang berkurang. Hal itu karena, banyak masyarakat yang memanfaatkan kendaraan pribadi untuk bepergian.
Jumlah MPU atau "lyn" saat ini juga semakin terpuruk, dengan adanya trayek beberapa kendaraan umum seperti bus. Salah satunya, adanya trayek baru bus patas jurusan Blitar-Surabaya lewat Pare. Padahal, di jalur yang sama, juga ada MPU yang beroperasional.
Pihaknya tidak ingin, terjadi masalah antara pemilik bus dengan MPU yang ujung-ujungnya masalah pendapatan. Pihaknya akan berupaya untuk mempertemukan keduanya, demi jalan keluar terbaik.
"Kalau penumpang, tentunya mengutamakan fasilitas. Tapi, kami akan mencoba membicarakan hal ini," ujar Subur.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri, Rifa'i mengatakan untuk masalah terminal, pihaknya memang saat ini optimalkan di Terminal Pare. Untuk di Purwoasri, hingga kini masih dimanfaatkan untuk tempat uji kir.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026