Olga Cerpa Y Mestisay dan Tabanka akan tampil di Rainforest World Music Festival 2019

id Olga Cerpa Y Mestisay dan Tabanka,RWMF 2019, kampung sarawak

Olga Cerpa Y Mestisay dan Tabanka akan tampil di Rainforest World Music Festival 2019

Olga Cerpa -vocals ,Hirahi Afonso -guitar, timple ,Pancho Delgado -guitar Marco Valero -bass , Joni Olivares -percussions , Mosco -saxophone Manuel Alejandro González Ortega -artistic director (Istimewa)

Pontianak (ANTARA) - Pengaruh Afrika dan Eropa menyatu di pulau-pulau di kepulauan yang membentuk Kepulauan Canary dan Tanjung Verde. Kedua pulau tersebut hanya 2 jam penerbangan dari satu sama lain di lepas pantai Sahara Atlantik. Ada banyak kesamaan, tetapi juga perbedaan penting misalnya, warisan musiknya.

Olga Cerpa dianggap sebagai salah satu vokalis kontemporer paling penting dari Kepulauan Canary sementara Mestisay adalah salah satu band paling populer. Sepanjang perjalanan artistiknya yang panjang, grup ini telah mengadopsi repertoar transatlantik, menggarisbawahi budaya musik campuran Kepulauan Canary - dengan komponen musik yang dicampur dengan akar Kepulauan Spanyol dan Afrika ini. Musik pun bergerak seolah melalui ruang yang penuh dengan cahaya, energi positif, serta suara akar dan warna Atlantik.

Ini mengikuti konsep dari "jallo", kata dari pulau yang merujuk pada benda-benda yang dilemparkan laut ke pantai Canary. Konsep ini pula yang digunakan oleh Olga Cerpa & Mestisay untuk menciptakan lagu-lagu indah dan ritme yang telah “ditemukan” dalam persinggahan musiknya. Musik yang bakal membuat bahagia dan perasaan senang ini merupakan tambahan sambutan untuk Rainforest World Music Festival (RWMF) 2019 .
 
Tabanka is a young Cape Verdean group from Rotterdam whose music has been inspired by that of Cape Verde artists from an older generation such as Code di Dona, Bulmundo, Americo Brito and of course, Bitori (Istimewa)

Sementara warisan musik Cape Verde kaya, bersemangat, dan cerminan dari masa lalu yang berasal dari akar Afrika dan Portugis. Tabanka, kelompok Cape Verde muda dari Rotterdam, yang akan menyebarkan suara Cape Verde di RWMF 2019. Musik mereka telah terinspirasi oleh seniman Cape Verde dari generasi yang lebih tua seperti Code di Dona, Bulmundo, Americo Brito dan tentu saja, Bitori.

Kelompok ini memiliki pandangan yang baru dan kontemporer tentang "funana", musik dan gaya tarian yang ceria, energik dan meriah, yang pernah dilarang oleh penguasa kolonial Portugis, yang kemudian menjadi bagian dari identitas Cape Verde pasca-kemerdekaan pada tahun delapan puluhan.

Funana berasal dari musik para keturunan budak, dicampur dengan pop dan jazz kontemporer. Dasar musiknya adalah gaita dan suara serak dari ferrinho. Pengunjung festival di RWMF 2019 bakal tidak akan bisa berdiri diam ketika Tabanka naik ke panggung.

Rainforest World Music Festival 2019, 12 - 14 Juli digelar di Kampung Budaya Sarawak, dikelola oleh Sarawak Tourism Board, didukung oleh Tourism Malaysia dan Kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya, Pemuda & Olahraga Sarawak.

Untuk informasi lebih lanjut tentang tiket, kegiatan festival, dan logistik, silakan masuk ke https://rwmf.net/ (*)

 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar