Bambang Harjo: Pelaku kericuhan 22 Mei bukan massa aksi

id bambang harjo, kerusuhan 22 mei, aksi massa 22 mei, partai gerindra, pilpres 2019, pemilu 2019,bambang haryo

Bambang Harjo: Pelaku kericuhan 22 Mei bukan massa aksi

Politisi Partai Gerindra Bambang Harjo Soekartono di Surabaya, Jumat (24/5/2019) malam. (ANTARA Jatim/Hanif Nashrullah)

Saya ikut prihatin karena iklim demokrasi kita sedang dicabik-cabi
Surabaya (ANTARA) - Politisi Partai Gerindra Bambang Harjo Soekartono memastikan kelompok pelaku kericuhan di Jakarta pada 22 Mei lalu bukan bagian dari massa aksi damai pendukung pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Salahudin Uno.  

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) itu mengaku ikut langsung dalam kegiatan aksi damai yang berlangsung di depan Kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Jalan MH Thamrin, Jakarta, tersebut.  

"Istri saya. Asrilia Kurniati, juga ikut aksi. Bahkan istri saya ini berada di barisan paling depan," katanya saat bercerita di sela kegiatan berbuka puasa bersama jajaran direksi PT Dharma Lautan Utama dan wartawan di Surabaya, Jumat malam.

Bambang mengisahkan aksi tersebut betul-betul berlangsung damai sampai magrib. 

"Setelah maghrib kami membubarkan diri, tidak ada Shalat Tarawih bersama di lokasi aksi," ujarnya. 

Bersamaan dengan massa aksi yang membubarkan diri itulah kemudian datang kelompok massa lain menuju ke arah Kantor Bawaslu Jalan MH Thamrin Jakarta.

Bambang Harjo mengaku melihat sendiri gelombang massa dari kelompok lain berjumlah ratusan orang yang berdatangan.

Selanjutnya, Bambang Haryo bersama istri berbuka puasa di Rumah Makan Padang Garuda, berlokasi tidak jauh dari Kantor Bawaslu.

Saat itulah kericuhan kemudian pecah. "Kelompok massa yang baru datang ini cari masalah dan kepolisian membalas sehingga terjadi kacau," katanya.

Bambang Harjo menyaksikan kericuhan itu dari "rooftop" Rumah Makan Padang Garuda. "Saya lihat sendiri ada sekitar 500 orang yang mengalami luka-luka akibat kerusuhan tersebut. Saya ikut prihatin karena iklim demokrasi kita sedang dicabik-cabik," ucapnya.   
 
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar