Menyambut puasa Ramadhan dengan penuh kedamaian

id puasa, menahan diri, pesta politik, damai sejahtera

Menyambut puasa Ramadhan dengan penuh kedamaian

Slamet Hadi Purnomo (dok, pribadi)

Berpuasa berarti harus menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang mengurangi nilai puasa seperti bergunjing, mencela, mencaci-maki, dan berpikiran negatif.
Surabaya (ANTARA) - Puji syukur alhamdulillah, bulan suci, bulan puasa Ramadhan 1440 Hijriah telah tiba. Gairah di bulan yang diyakini umat Islam sebagai bulan penuh berkah itu, kini sudah tampak mewarnai nafas kehidupan umat di berbagai belahan dunia. 

Bahkan, sambutan suka cita akan hadirnya bulan Ramadhan di Tanah Air, juga terlihat dimana-mana. Contohnya, digelarnya tradisi Balimau, mandi dengan jeruk nipis dengan maksud menyucikan diri menyambut Ramadhan di Minangkabau, Pelon Unggahan di Banyumas, dan Dugderan di Semarang.

Selain itu, ada pula Nyadran dan Megengan di sebagian masyarakat Jawa, Megibung di masyarakat Islam di Bali, Munggahan di masyarakat Sunda, Meugang di masyarakat Aceh, Ziarah Kubro di masyarakat Palembang, Kirab Dhandhangan di masyarakat Kudus, dan sambutan-sambutan lainnya.

Tradisi-tradisi yang tumbuh di masyarakat tersebut semuanya bertalian dengan tibanya bulan Ramadhan yang diyakini umat Islam sebagai bulan penuh ampunan. Masyarakat menyambut perintah puasa dengan suka cita yang dimanifestasikan dengan kondisi daerah masing-masing. 
 
Puasa atau dalam Bahasa Arab disebut shaum atau shiyam yang berarti menahan diri. Puasa pada dasarnya bersifat universal. Namun, puasa Ramadhan sangat istimewa. Sebagaimana namanya, puasa Ramadhan hanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan saja. 

Seperti diketahui, ibadah puasa tidak hanya ibadah berdimensi lahir, tapi juga batin. Puasa Ramadhan tidak sekadar menahan haus, lapar,  berhubungan suami-istri pada siang hari, yang berdimensi lahir, tapi juga menyangkut perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, dan itu berdimensi batin.

Berpuasa berarti harus menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang mengurangi nilai puasa seperti bergunjing, mencela, mencaci-maki, dan berpikiran negatif.

Dari rangkaian ibadah yang dinamakan puasa Ramadhan tersebut, selaras dengan perintah Tuhan, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."

Artinya, dengan berpuasa diharapkan akan menjadikan manusia  semakin dekat dengan Tuhannya.  

Seperti halnya maksud dari perintah puasa, semoga bersama bergulirnya kewajiban puasa Ramadhan, semua pihak bisa menarik pelajaran dari datangnya bulan suci ini, mampu menahan diri. Mampu menahan diri terhadap nafsu dari pikiran dan tindakan negatif, destruktif serta merugikan.

Damainya bulan Ramadhan semoga mampu menghiasi relung-relung hati setiap insan. Caci-maki yang banyak menghiasi media sosial, mudah-mudahan semakin berkurang. Sebaran berita-berita hoaks juga tidak masif lagi.

Pesta demokrasi Pemilu 2019 yang sempat menyisakan perseteruan, juga mengubahnya menjadi perdamaian dan kebersamaan.

Selamat datang ya Ramadhan... Selamat datang kedamaian, ketenteraman dan kesejahteraan...
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar