Dr Sutejo: Menulis itu Mengabadikan Kehidupan

id Menulis, Sutejo, kepenulisan,muktamar sastra

Dr Sutejo: Menulis itu Mengabadikan Kehidupan

Dr Sutejo MHum saat berbicara pada workshop kepenulisan di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Kamis (20/12/2018). (Antarajatim/Masuki M Astro)

Jadi, kalau kita kelak meninggalkan dunia fana ini, tulisan kita tetap ada. Itu yang saya maksud mengabadikan kehidupan.
Situbondo (Antaranews Jatim) - Pakar sastra dari Ponorogo Dr Sutejo, MHum mengemukakan bahwa menulis itu, apapun bentuknya, adalah mengabadikan kehidupan pelakunya.

"Jadi, kalau kita kelak meninggalkan dunia fana ini, tulisan kita tetap ada. Itu yang saya maksud mengabadikan kehidupan," katanya pada workshop kepenulisan dalam ajang  Muktamar Sastra Nusantara di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Kamis.

Dosen sastra pada STKIP PGRI Ponorogo, Jawa Timur, ini juga mengemukakan bahwa menulis berarti mengabadikan pemikiran karena  karya warisan penulisnya itu akan terus dijadikan referensi oleh segala generasi.

Penulis 40 judul buku berbagai jenis itu kemudian mengutip pernyataan sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan bahwa sepandai apapun seseorang tidak akan ada artinya jika tidak mengabadikan karyanya dalam bentuk tulisan.

Penggagas Sekolah Literasi Gratis (SLG) Ponorogo itu kemudian membuka "kunci" agar para santri dan generasi muda lainnya, memiliki kemampuan menulis, yakni KM sama dengan L kali N. KM artinya kemahiran menulis, L itu latihan dan N jumlah dari L yang tidak terhitung.

"Tapi kita jangan fokus di berapa kalinya latihan. Fokus saja pada latihan yang terus menerus itu. Nanti kemampuan atau kemahiran akan muncul," kata penulis yang juga produktif menghasilkan karya artikel dan fiksi ini.

Pada pelatihan yang diikuti siswa SMA dan mahasiswa Universitas Ibrahimy Situbondo itu, peserta sangat antusias ketika dibuka sesi tanya jawab. Namun, Sutejo menyayangkan waktu yang terlalu singkat dari pelatihan itu.

"Selain itu, menurut saya untuk anak SMA materi penulisan tentang artikel itu kurang efektif. Kalau ke karya fiksi baru tepat. Anak-anak pasti pernah baca cerpen atau puisi. Dari membaca karya orang itu anak-anak bisa belajar," tutur manta Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ponorogo ini.

Muktamar Sastra yang digagas Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo KHR Ahmad Azaim Ibrahimy itu didukung oleh LTN NU Jatim dan TV9 Nusantara. Acara itu dihadiri ratusan sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia.(*)

Baca juga: Kiai Azaim: Sastra telah Diseret-seret untuk Kerusuhan
Baca juga: Zawawi: Penyair tak Mungkin Mengeluarkan Ujaran Kebencian
Baca juga: Tidur pun Santri itu Mimpi Sastra
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar