Pengadilan Agama Trenggalek Tangani 1.277 Perceraian selama 2018

id perceraian, cerai, gugat cerai, pengadilan agama trenggalek, trenggalek

Pengadilan Agama Trenggalek Tangani 1.277 Perceraian selama 2018

Ilustrasi perceraian (IST/image diambil dari Google.com)

"Biasanya ketika kami melakukan mediasi pihak tergugat hanya mengucap masih mencintai pasangannya, namun tidak dilakukan upaya untuk menyelamatkan hubungannya tersebut, makanya putusan cerai yang dihasilkan," kata Romli.
Trenggalek (Antaranews Jatim) - Pengadilan Negeri Trenggalek, Jawa Timur tercatat menerima 2.639 perkara dan memutuskan 1.277 kasus perceraian selama kurun 2018.

"Untuk sisanya merupakan perkara lain seperti izin poligami, dispensasi nikah, harta bersama, penguasaan anak dan sebagainya," kata Panitera Muda Hukum PA Trenggalek Achmad Rumli di Trenggalek, Selasa.

Untuk jumlah perkara perceraian yang masuk di PA Trenggalek mulai awal 2018 hingga kemarin (10/12) sebanyak 1.859 perkara.

Dari jumlah itu, 582 merupakan cerai talak (cerai yang dilakukan oleh suami) dan sisanya 1.277 perkara merupakan cerai gugat (cerai yang dilayangkan oleh istri).

Achmad Rumli melanjutkan, dari 1.859 perkara perceraian itu, sebanyak 1.520 perkara telah mendapatkan putuskan.

Sedangkan sisanya masih dalam proses. Dari jumlah itu, 452 perkara merupakan cerai talak, dan 1.068 perkara merupakan cerai gugat.

Rumli menjelaskan, dari semua perkara tersebut masalah ekonomi paling mendominasi, selain perkara KDRT yang kebanyakan dilakukan olah sang suami.

"Mungkin banyaknya perkara cerai gugat itu terjadi karena sang istri menganggap nafkah yang diberi sang suami kurang, makanya dia memilih jalan seperti itu," katanya.

Sebenarnya jika ada salah satu pasangan yang mengajukan perkara perceraian, PA selalu mefasilitasi, agar bisa rujuk lagi, khususnya dari pasangan tersebut telah menghasilkan keturunan.

Namun kebanyakan ketika dilakukan mediasi tersebut diantara keduanya sudah tidak terjadi kecocokan sehingga, lebih memilih ingin mengakhiri hubungan rumah tangganya tersebut.

Apalagi tidak ada usaha dari pihak tergugat yang ingin rujuk kembali, untuk mencari simpatik penggugat agar mau mencabut laporannya tersebut.

Sebenarnya ketika dilakukan mediasi tersebut, ada salah satu pihak yang mencabut laporannya dan ingin rujuk kembali.

Hal itu dilakukan karena mereka masih saling mencintai, sedangkan pengajuan perceraian tersebut atas desakan sejumlah pihak, salah satunya keluarga.

"Biasanya ketika kami melakukan mediasi pihak tergugat hanya mengucap masih mencintai pasangannya, namun tidak dilakukan upaya untuk menyelamatkan hubungannya tersebut, makanya putusan cerai yang dihasilkan," kata Romli. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar