Lezatnya Kue Choi Pan di Rumah Kuno Singkawang

id Istana Kodriyah, kota singkawang, khatulistiwa pontianak, bandara udara,kue choi

Lezatnya Kue Choi Pan di Rumah Kuno Singkawang

Kue Coi Pan di depot rumah kuno China di Singkawang. (Kusnandaka)

Kami bisa memasak kue Coi Pan dari turun temurun.
Pontianak (Antaranews Jatim) - Menikmati kue Choi Pan masakan Iwan Murtanto  di depotnya di Kelurahan Condong, Kecamatan Singkawang Barat, Kalimantan Barat, tidak hanya lezat, tapi juga memperoleh suasana yang nyaman mirip di Tiongkok.

Masalahnya lokasinya di kawasan rumah kuno khas China milik keluarga Marga Xie Shou Shi (Tjhia Siu Si) yang sudah masuk situs cagar budaya sejak 2011.

"Kami bisa memasak kue Choi Pan dari turun temurun," ucap pemilik depot kue Coi Pan di Singkawang Iwan Murtanto, kepada Antarajatim, di depotnya, Selasa (21/9).

Di depotnya Iwan Murtano yang masih keluarga Xie Shou Shi itu, selalu ramai dikunjungi tidak hanya wisatawan domestik (wisdom) dari berbagai daerah di Tanah Air, tapi juga wisatawan manca negara (wisman).

Ia menyebut pengunjung di depotnya yang menyantap kue Choi Pan tidak hanya masyarakat biasa, tetapi juga sejumlah artis ibu kota, seperti Meriam Belina, Dian Sastro, juga yang lainnya.

Tidak hanya itu, wisman yang datang juga dari berbagai negara, antara lain, Jepang, Kanada, Tiongkok, juga negara yang lainnya.

"Kalau pengunjung wisdom ya dari berbagai daerah di Tanah Air," ujarnya.

Dalam menikmati kue Choi Pan dilengkapi dengan sambal, juga kecap, dipadu dengan minuman khas Singkawang yaitu Sasi Pipo."Saya menjual kue Choi Pan Rp1.500 per kue dan minuman khas Singkawang Rp10.000 per botol," ucap dia menjelaskan.

Ditanya menu dasar kue Choi Pan, menurut Iwan, di dalamnya berisi sayur-sayuran, juga buah bengkuang yang diiris-iris, juga dilengkapi bumbu lainnya.

Antara yang berkunjung bersama dengan Kepala Dinas Kominfo Bojonegoro Kusnandaka Tjatur, dengan jajarannya termasuk Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Heru Sugiyarto menjumpai pembeli kue Choi Pan di depot rumah kuno itu berjubel.

"Saya habis banyak, rasanya lezat dan gurih," ucap Andre dari Dinas Kominfo Bojonegoro yang ikut dalam rombongan.

Sebagaimana juga dijelaskan Iwan bahwa rumah kuno keluarga  itu, dihuni 12 kepala keluarga (KK) dengan jumlah ratusan jiwa, yang menjadi ahli waris sah.

Hanya saja, lanjut dia, keluarganya itu tidak semuanya menetap di rumah itu, tapi banyak yang bekerja diluar, bahkan juga di Jakarta.

"Di rumah ini yang membuka depot hanya saya sejak," ucapnya.

Meskipun ia, warga keturunan China di depot setempat tidak menyediakan masakan lainnya, seperti mie, juga masakan khas China lainnya.

Sampai saat ini rumah Marga Tjhia adalah Perumahan keluarga yang dihuni oleh keturunan langsung Xie Shou Shi (Tjhia Siu Si) yang dibangun antara 1901-1902.

Dari keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber menyebutkan bahwa lokasi rumah yang bediri di atas tanah sekitar 5.000 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 2.000 meter persegi itu adalah tanah hibah dari Kolonial Belanda.

Pada awalnya ia merupakan seorang pendatang dari luar (Fujian - Tiongkok) Xie Shou Shi  yang mengarungi lautan bersama teman-teman sekampungnya untuk mengubah nasib.

Rumah itu dibangun dengan mendatangkan langsung arsitek dari Tiongkok mendesign interior ala timur-barat dan bangunan itu pada masanya bangunan yang besar.

"Sungai yang ada di depan rumah itu sampai ke laut. Dulu dimanfaatkan untuk bongkar muat kapal," kata Heru Sugiyarto menambahkan.

Bangunan Rumah Marga Tjhia mengadopsi gaya ala timur dan barat, bahan bangunan rumah ini sebagian besar menggunakan kayu ulin (belian).

"Keluarga kami menolak adanya bantuan Pemerintah terkait pemeliharaan bangunan. Tapi kami tetap akan mempertahankan bangunan rumah ini merawat dengan baik," kata dia menjelaskan. (*)

 
Pewarta :
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar