Istana Kodriyah Pontianak Cagar Budaya Yang Utuh

id Pontianak, bandara udara, kubu raya,singkawang, istana kodriyah, antaranews jatim

Istana Kodriyah Pontianak Cagar Budaya Yang Utuh

Sejumlah pengunjung di bangunan depan Istana Kodriyah di Potianak, Selasa (18/9). (Slamet Agus Sudarmojo.)

Pontianak (Antaranews Jatim) - "Kayu Ulin Kalimantan selama ini 'tak pandai' ambruk (kuat)," kata seorang pengemudi taksi grab Pontianak Abdul Aziz, dalam perbincangan dengan Antara di Potianak, Rabu (19/9).

Ia menyatakan hal itu menjawab pertanyaan masih utuhnya bangunan Istana Kesultanan Kodriyah yang semuanya dengan bahan kayu Ulin.

Hal senada disampaikan seorang pengusaha kayu Pontianak Swadana yang menyatakan bahwa kayu Ulin termasuk kayu cukup kuat, dibandingkan dengan kayu lainnya.

Namun, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) sudah lama melarang kayu Ulin dikirim ke luar daerah. Sebab, keberadaan hutan pohon Ulin di Kalimantan Barat semakin menipis.

"Tapi Pemprov Kalimantan Tengah dan Timur tidak melarang pengiriman kayu Ulin keluar daerah. Ya kalau membawa kayu Ulin dari Kalbar bisa saja di bawa ke Kalteng, baru dikirim ke Jawa," ucapnya menjelaskan.

Bangunan Istana Kodriyah, sebagaimana dijelaskan  Syarif Hamdan Alkadrie yang masih keluarga di Kesultanan Istana Kodriyah, kepada Antara, Selasa (18/9), bahwa Istana Kodriyah dibangun pada 1773, setelah pembangunan Masjid Jamik Potianak pada 1771.

"Pertama kali dibangun masjid, baru kemudian istana," ucap Syarif Hamdan menegaskan.

Dari sumber situsbudaya. id, menyebutkan secara historis, Istana Kodriyah mulai dibangun pada tahun 1771 M dan baru selesai pada tahun 1778 M.

Tak beberapa lama kemudian, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie pun dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak, dan mendapatkan pengesahan sebagai Sultan Pontianak dari Belanda pada tahun 1779.

Disebut Istana Kodriyah, karena sesuai dengan tulisan yang masih asli di bangunan yang didominasi warga kuning termasuk pagar, pada bagian depan dalam Bahasa Arab dengan tulisan warna hitam terbaca istana Kodriyah.

Tapi di papan yang dikeluarkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pontianak di samping kiri istana menyebutkan bahwa bangunan itu masuk situs cagar budaya tertulis Istana Kadriah.

Mengenai warna kuning, kata Syarif, juga dimanfaatkan warna untuk perahu Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie yang dimanfaatkan meninjau wilayahnya di Sungai Kapuas.

"Itu yang ada di foto perahu sultan juga berwarna kuning di belakangnya ada satu buaya besar yang selalu mengawal. Dominasi warna kuning merupakan simbol kemenangan," ucapnya.

Di dalam istana berisi berbagai foto keluarga juga peninggalan istana antara lain, guci China, dua kursi singasana, mahkota, juga peninggalan yang lainnya termasuk dua kaca berukuran cukup besar di kanan kiri di ruangan tengah dan sejumlah senjata kanon terletak di depan istana.

"Dua kaca besar ini hadiah dari Pemerintah Perancis," ucap dia.

Antara yang mencermati bangunan itu bersama Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro Heru Sugiyarto, menjumpai ada papan kayu ulin di bagian depan yang utuh dengan panjang lebih dari 20 meter lebar sekitar 15 centimeter.

"Bangunan istana masih bisa utuh ya karena berbeda dengan bangunan modern yang proses pembangunannya tidak benar," ujarnya.

Dari catatan yang ada menyebutkan bahwa Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang putra ulama keturunan Arab Hadramaut pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar.

Usaha membuka hutan itu dilakukan untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal.  Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak.

Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jamik Pontianak (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kodriyah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak.

"Kekuasaan Syarif Abdurrahman Alkadrie sampai Natuna. Tapi Pontianak dalam percaturan politik tidak masuk daerah istimewa, seperti Yogyakarta. Tapi pada 1947 pernah menjadi daerah istimewa sampai 1950," kata Syarif menjelaskan.

Menurut Agus Alkadrie ( ajudan Sultan Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud Alkadrie bin Sultan Syarif Muhammad Alkadrie), bahwa Istana dibangun berdasarkan konsep syiar Islam.  Ia mencontohkan di balai-balai depan ada jendela kaca yang jumlahnya 30 mengadopsi jumlah juzz Al Quran.

Ia Sultan Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud Alkadrie bin Sultan Syarif Muhammad Alkadrie sesuai silsilah masuk trah ke-9.

"Istana memiliki delapan kamar, sebab ketika itu dihuni sekitar 50 orang yang semuanya masih keluarga," ucapnya menjelaskan.

Agus memperkirakan bangunan Istana Kodriyah lebarnya sekitar 25 meter dengan panjang sekitar 60 meter berdiri di atas tanah sekitar 5.000 meter persegi.

Dengan masuknya bangunan Istana Kodriyah sebagai situs cagar budaya, kata Syarif Hamdan Alkadrie, Pemprov Kalimantan Barat, membantu untuk biaya perawatan.

"Gubernur Kalimantan Barat sangat memperhatikan keberadaan Istana Kodriyah. Ya sekarang berkembang menjadi objek wisata. Banyak memperoleh kunjungan wisatawan domestik (wisdom) juga wisatawan manca negara (wisman) yang datang," ucap Agus menambahkan.

Ia menambahkan pengunjung Istana Kodriyah dari berbagai kota di Indonesia, antara lain, jakarta, bandung, surabaya, juga wisman dari berbagai negara.

"Pengunjungnya rata-rata sekitar 100 orang per harinya. Rata-rata pengunjung datang untuk melihat arsitektur bangunan yang masih utuh, juga peninggalan yang masih ada di istana," ucapnya seraya menambahkan mencapai Istana Kodriyah tidaklah sulit, sebab berada di tengah-tengah Kota Pontianak.(*)

 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar