Rumah Sakit Unair Resmikan Unit Perawatan Cuci Darah

id RS Unair,unit hemodialisis, layanan cuci darah,surabaya

Rumah Sakit Unair Resmikan Unit Perawatan Cuci Darah

Direktur RS Unair Prof Nasronudin dan Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Jawa Timur dr Pranawa menengok pasien yang ada di unit hemodialisis RS Unair. (Willy Irawan)

Kami ingin hadir di tengah masyarakat karena semula RS Unair belum punya fasilitas ini. Sehingga RS Unair bisa semakin dekat dan memberikan layanan yang baik untuk masyarakat
Surabaya (Antaranews Jatim) - Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya (Unair), Jumat, meresmikan unit baru, yaitu yakni unit perawatan cuci darah atau hemodialisis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan itu akibat penyakit gagal ginjal.

Direktur RS Unair Prof Nasronudin mengatakan dibukanya unit hemodialisis bertujuan memberikan pelayanan kepada masyarakat yang setiap hari jumlahnya semakin banyak.

Pembukaan unit itu juga, lanjut dia, sebagai bentuk keberhasilan pemerintah dan RS Unair untuk membantu mempertahankan kualitas hidup dan harapan hidup masyarakat yang terkena penyakit ginjal kronik.

"Kami ingin hadir di tengah masyarakat karena semula RS Unair belum punya fasilitas ini. Sehingga RS Unair bisa semakin dekat dan memberikan layanan yang baik untuk masyarakat," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Jawa Timur dr Pranawa mengatakan diresmikan unit hemodialisis di RS Unair bertepatan dengan peringatan Hari Ginjal Dunia yang jatuh pada hari Kamis, minggu kedua bulan Maret.

"Hari ginjal diperingati bukan untuk pesta-pesta, tetapi justru untuk mengingatkan kita bahwa di dunia ini masih ada penyakit yang berbahaya dan menimbulkan biaya yang sangat besar, yaitu penyakit ginjal kronik," kata dia.

Pranawa menjelaskan, pasien penyakit ginjal kronik tidak bisa menjalani perawatan konserfatif dengan obat-obatan saja. Pasien tersebut memerlukan perawatan terapi pengganti ginjal. Ada tiga perawatan yang dapat dilakukan, di antaranya hemodialisis, continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) dan pengobatan yang lebih tuntas yaitu transplantasi ginjal.

Ketiga cara itu bisa dilakukan di Indonesia, termasuk Surabaya. Selain itu, pasien ginjal kronik, kata dia, jika tidak melakukan transplantasi ginjal, maka harus menjalani hemodialisis dua hingga tiga kali seminggu, sekitar 10-12 kali tindakan dalam satu bulan dengan biaya satu juta sekali perawatan.

Dia mengungkapkan, menurut data internasional, saat ini, di antara 1 juta penduduk ada seribu pasien yang memerlukan perawatan hemodialisis. Tahun 2016 lalu, Indonesia menghabiskan dana 450 miliar hanya untuk hemodialisis saja.

"Dengan peresmian instalasi baru ini, kami harapkan hemodialisis akan makin berkurang," ujar Pranawa.(*)
Pewarta :
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar