Surabaya (Antara Jatim) - Lima Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menciptakan alat penggetar kandung kemih yang dapat mengoptimalkan dan mengakuratkan hasil uranisasi guna menekan kejadian infeksi saluran kemih (ISK) di Indonesia.
"Alat ini dinamakan "Abdomen Belt Vibration". Fungsinya untuk memberikan getaran pada dinding abdomen, sehingga isi kandung kemih dapat luruh secara maksimal karena efek kontraksi yang didapat," kata Ketua Tim Peneliti Ayu Septia Malinda di Surabaya, Kamis.
Ayu didampingi keempat anggotanya yaitu Dwi Eri Retno, Eka Fitriyah Rohmah, Masunatul Ubudiyah, dan Lukman Handoyo mengatakan metode umum yang selama ini digunakan untuk mengoptimalkan hasil urinalisis adalah "Skipping" dan "Jumping", dimana pasien sebelum buang air kecil diminta melompat-lompat kecil. Namun pada pasien yang tidak mampu untuk bergerak, hal itu dapat menjadi kendala.
"Ketika praktik di rumah sakit, kami melihat pasien-pasien yang lemah untuk bergerak, bahkan tidak bisa bergerak sama sekali, mereka banyak mengalami dugaan komplikasi ISK. Kami prihatin karena hasil urinalisis pasien kurang optimal dan akurat," ujar Ayu,
Ayu mengatakan, hasil urinalisasi yang kurang optimal itu mengakibatkan penanganan yang terlambat kepada pasien yang benar-benar terdiagnosis ISK.
Dalam penggunaannya, Abdomen Belt Vibration dipasang pada bagian perut pasien. Alat ini berbentuk ikat pinggang besar dengan lebar 13 centimeter dan panjang 125 centimeter yang di dalamnya terdapat enam buah penggetar berbasis pemrograman Arduino Nano.
"Ketika alat dipasang pada perut pasien, penggetar-penggetar dan harus berada di tengah-tengah perut, sehingga efek kontraksi kandung kemih dapat berjalan optimal," ucap Ayu.
Ayu menjelaskan, lama penggetarannya hanya cukup sekitar 5 menit. Kekuatan getarannya juga dapat diatur sesuai dengan ketebalan lemak perut pasien, sehingga pada pasien dengan ketebalan lemak di bagian perut yang berlebih, pengaturan getarannya harus lebih kencang.
"Namun jangan khawatir, karena ikat pinggang canggih kami ini dibuat dengan bahan kain yang dapat menyerap keringat serta tidak panas di kulit, sehingga proses bekerjanya tidak akan mengganggu kenyamanan pasien," tutur Ayu Septia.(*)
