Ponorogo, Jawa Timur (ANTARA) - Program Pengabdian Masyarakat Program Doktor Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya memperkuat literasi digital guru sekolah luar biasa melalui pelatihan penggunaan teknologi yang aman, etis, dan adaptif bagi siswa berkebutuhan khusus/disabilitas di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu.
Eva Ristiawati, guru dari SLBB Pertiwi Ponorogo yang menangani siswa tunarungu menilai literasi digital menjadi kebutuhan penting dalam pembelajaran sehari-hari.
“Kami selalu menggunakan foto, video, dan berbagai media digital. Edukasi seperti ini membuat kami lebih paham soal privasi, materi yang sesuai, dan cara memilih sumber belajar yang tepat. Harapannya ada pendampingan lanjutan,” ujar Eva.
Kegiatan pelatihan yang difasilitasi Kantor Cabang Dinas Pendidikan setempat itu menyoroti masih terbatasnya pendampingan literasi digital bagi guru SLB, termasuk pemahaman keamanan siber, perlindungan data siswa, hingga pemilihan sumber belajar kredibel.
Pada saat yang sama, risiko kejahatan siber terhadap anak disabilitas terus meningkat sehingga guru memerlukan kompetensi digital yang lebih komprehensif.
Materi yang diberikan mencakup pemahaman dasar literasi digital, teknik memilih informasi terpercaya, perancangan media pembelajaran interaktif, serta praktik keamanan digital seperti penggunaan sandi kuat dan pengelolaan data pribadi siswa.
Peserta juga mempraktikkan pembuatan konten pembelajaran adaptif, termasuk video berteks bahasa isyarat dan modul visual-audio ramah disabilitas.
Baca juga: Unair beri pendampingan teknologi inovatif peternak bebek
Antusiasme terlihat dari para guru yang menyebut pelatihan ini membuka wawasan baru dalam penggunaan teknologi.
Rudi Prasetyo dari SLB C Pertiwi Ponorogo menambahkan, digitalisasi membantu guru menyampaikan materi lebih menyenangkan dan mudah dipahami siswa.
“Materi Pengmas (pengabdian masyarakat) Unair ini relevan untuk guru masa kini. Media digital membuat anak-anak lebih tertarik dan pembelajaran tidak lagi konvensional,” katanya.
Perwakilan tim Pengmas, Fitri Mutia, menjelaskan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan digital guru SLB sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus.
Kepala Program Studi S3 Ilmu Sosial FISIP Unair, Siti Mas'udah, menyatakan pelatihan ini selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan mendukung indikator kinerja utama perguruan tinggi melalui perluasan kolaborasi dengan masyarakat.
Dengan besarnya minat guru SLB, Unair menargetkan terbentuknya komunitas belajar digital, meningkatnya kesadaran keamanan siber di sekolah, serta lahirnya produk pembelajaran adaptif yang lebih inklusif.
Unair memastikan pendampingan lanjutan tetap diberikan agar guru lebih percaya diri menghadapi perkembangan teknologi serta mampu menyediakan akses belajar yang aman, setara, dan berkualitas bagi siswa disabilitas
