“Orang yang mendapat tempat itu orang yang memiliki keterampilan. Kalau bisa punya ijazah dan keterampilan, itulah yang diperlukan,” tegasnya.
Surabaya (Antara Jatim) - Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memberi tiga pesan untuk pemuda dalam menghadapi persaingan di era kemajuan informasi dan teknologi serta masuknya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA).

Ditemui setelah menyampaikan orasi kepemudaan serta traktat keislaman dan kebangsaan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa, dia mengatakan pesan pertamanya adalah pemuda harus memiliki kesadaran cinta Tanah Air. Menurut dia, cinta Tanah Air merupakan modal utama untuk menjadi bangsa unggul.

"Kalau tidak begitu nanti tidak punya pijakan dan jati diri. Pintar tapi tidak punya Tanah Air juga untuk apa? Jadi, itu pesan penting pertama," kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal itu dalam acara yang digelar Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII).

Pesan kedua, lanjut Gus Ipul, yakni pemuda wajib meningkatkan daya saing dengan keunggulan kompetetif. Saat ini, pemuda-pemuda sudah memiliki keunggulan komparatif dan itu perlu dipertahankan. Tapi kompetetif itu wajib melengkapi diri dengan keterampilan yang cukup disamping ilmu.

“Orang yang mendapat tempat itu orang yang memiliki keterampilan. Kalau bisa punya ijazah dan keterampilan, itulah yang diperlukan,” tegasnya.

Pesan ketiga ialah perlunya disiplin tinggi. “Kita harus mulai melatih diri kita untuk disiplin. Tidak ada bangsa yang maju tanpa ada kedisiplinan di dalam masyarakat,” ungkapnya.

Dengan memiliki tiga hal itu, lanjut dia, pemuda Indonesia bisa menjadi manusia unggul dan menjadi masa depan bangsa. “Tidak ada pilihan lain sekarang ini,” katanya.

Di kesempatan yang sama, satrawan dan budayawan D. Zamawi Imron ikut mengingatkan pemuda agar terus belajar serta bergerak dan kreatif.

“Ada catatan sejarah penting, bahwa rata-rata orang yang ikut rapat kepemudaan (Sumpah Pemuda,Red), rata-rata berumur 20 tahun ke bawah,” ungkapnya.

Zamawi menyebutkan, waktu itu pemuda bisa berperan karena pemuda pada masa itu sangat cerdas. Selain itu, para orang tua juga mau mengalah.

“Di sini dialektika juga mengambil peran penting. Seseorang harus mampu berdialektika dengan diri sendiri,” terangnya.

Dia bahkan menyitir kata-kata Imam Syafi’i tentang pentingnya belajar di masa muda. “Kata Imam Syafi’i, kalau ada anak muda yang malas belajar di masa mudanya, maka takbirlah sebanyak empat kali sebagai tanda kematiannya,” tandasnya. (*)

Pewarta: willy irawan
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026