Surabaya (Antara Jatim) - Legislator menilai pekerjaan saluran air atau gorong-gorong di sepanjang Jalan Kiai Tambak Deres sampai Jalan Abdul Latif, Kelurahan Bulak, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya terkesan asal-asalan.
"Ini kelihatan sekali kalau tidak sesuai spek. Antara box culvert satu dengan yang lain tidak rata, naik turun dan kelihatan celah atau lubang," kata anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Surabaya Riswanto saat melakukan sidak di sepanjang Jalan Kiai Tambak Deres, Selasa.
Menurut dia, salah satu proyek yang dikeluhkan warga adalah pembangunan saluran tipe A tahap dua di sepanjang Jalan Kiai Tambak Deres sampai Jalan Abdul Latif, dengan menelan anggaran Rp 6,8 miliar oleh pelaksana PT. Tectonia Grandis sejak 13 April 2016. Di lokasi, ditemukan pekerjaan amburadul diduga tidak sesuai dengan spek yang sudah ditentukan.
Ia mengatakan pemasangan box culvert yang naik turun itu dipastikan tidak ada pasir di lapisan bawah dan samping kanan dan kiri sebelum box culvert dipasang. Dengan diberikan pasir sebagai alas, membuat box culvert menjadi rata dan membuat penutup di atasanya sejajar tidak naik turun.
"Harusnya di lapisan bawah, ada pasir biar bisa rata dan sejajar. Tujuannya supaya meredam pergerakan dan mengatur ketinggian box culvert biar levelnya sama. Ini kelihatan, lubangnya harus ditutup kayu dan triplek. Mestinya tidak boleh ada renggangan seperti ini. Jelas ini, tidak memakai alas pasir," katanya.
Dengan kondisi yang seperti ditemukan di lapangan, Riswanto bisa menyimpulkan jika pengerjaan proyek dengan nomor kontrak 611.41/0005.0.047/436.6.1/2016 asal-asalan. Padahal, dengan dibangunnya saluran tipe A di wilayah Kelurahan Bulak ini diharapkan dapat meredam banjir yang selama ini menghantui warga Bulak Cumpat, Kiai Tambak Deres, Bogorami, Bulak Rukem dan sekitarnya.
"Di samping untuk mengantisipasi banjir. Jalan ini juga arah menuju ke Sentra Ikan Bulak (SIB). Kalau pengerjaan proyeknya seperti ini, kan percuma. Uang dianggarkan, tetapi hasilnya tidak maksimal. Setidaknya, PU juga harus tahu kondisi di lapangan dengan pekerjaan yang asal-asalan. Kalaupun proyek ini selesai, jelas tidak mungkin dikeruk. Lha ini, sudah ditutup sirtu," ujarnya.
Mendapati hal itu, ia meminta kepada Pemkot Surabaya terutama Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Surabaya untuk segera melakukan pembenahan pekerjaan proyek di lokasi. Mengingat, pembangunan tahap kedua dengan anggaran milirabn rupiah ini diharapkan dapat mengurangi penderitaan warga dari banjir.
"Mestinya sebelum kerja, harus ada tahapan survei. Lalu kesiapan kontruksi direksi kit, semacam tempat khusus untuk berkoordinasi. Kemudian lokasi penempatan material jangan sampai menggangu fungsi jalan. Ini malah tidak kelihatan direksi kit-nya. Saya dapat laporan, material di pinggir jalan banyak membuat orang celaka. Lha kok ini, sama PU didiamkan," katanya. (*)
Legislator Surabaya: Pekerjaan Saluran Bulak Asal-Asalan
Selasa, 14 Juni 2016 19:50 WIB
Ini kelihatan sekali kalau tidak sesuai spek. Antara box culvert satu dengan yang lain tidak rata, naik turun dan kelihatan celah atau lubang
