Sumenep (Antara Jatim) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep mencatat angka inflasi di kabupaten tersebut pada November 2015 sebesar 0,30 persen, melampaui inflasi di Jawa Timur yang sebesar 0,06 persen dan Nasional sebesar 0,21 persen.
"Inflasi yang terjadi di Sumenep pada November 2015 juga tertinggi dibanding tujuh daerah lainnya di Jawa Timur. Angka inflasi di Sumenep memang melampaui tingkat regional maupun Nasional," ujar Kepala BPS Sumenep, Suparno di Sumenep, Rabu.
Sesuai data dari BPS Sumenep, inflasi yang terjadi di Jember pada November 2015 sebesar 0,26 persen, Banyuwangi 0,08 persen, dan Kediri 0,11 persen.
Selanjutnya di Malang sebesar 0,16 persen, Probolinggo 0,05 persen, Madiun 0,21 persen, dan Surabaya mengalami deflasi sebesar 0,02 persen.
"Pada November 2015, empat dari tujuh kelompok pengeluaran di Sumenep mengalami inflasi dan tiga kelompok terjadi deflasi," kata Suparno.
Ia menjelaskan, empat kelompok pengeluaran di Sumenep yang mengalami inflasi pada November 2015 adalah bahan makanan sebesar 1,29 persen; makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,02 persen; perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,28 persen; dan kesehatan 0,01 persen.
Sementara tiga kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah sandang sebesar 0,87 persen; pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,17 persen, dan transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,01 persen.
"Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi, di antaranya daging ayam ras, daging sapi, beras, bawang merah, udang basah, dan telur ayam ras," ujarnya.
Sementara komoditas yang memberikan andil terjadinya deflasi di Sumenep pada November 2015 adalah emas perhiasan, tongkol pindang, daging ayam kampung, komputer jinjing, kacang hijau, dan minyak goreng. (*)
