Sulitnya Mengatasi Kekeringan di Jatim

id Kekeringan, Jawa Timur

Sulitnya Mengatasi Kekeringan di Jatim

Slamet Agus Sudarmojo (penulis)

Kekeringan selalu terjadi setiap tahun, tapi tidak bisa dibiarkan begitu saja terulang dan selalu terulang lagi
Kekeringan bukanlah barang baru di berbagai belahan Tanah Air tercinta, termasuk di Jawa Timur. Kekeringan yang selalu datang di musim kering (kemarau) itu tidak hanya mengakibatkan kesulitan air bersih bagi warga, tapi juga mengakibatkan areal pertanian seperti tanaman padi menjadi gagal panen.

Apalagi kekeringan yang terjadi tahun ini, yang dipengaruhi "El Nino", mengakibatkan jadwal kemarau maju, sehingga Juni sudah tidak turun hujan, yang biasanya masih ada hujan.

"Kekeringan selalu terjadi setiap tahun, tapi tidak bisa dibiarkan begitu saja terulang dan selalu terulang lagi," ucap Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Bojonegoro, Agustus 2015.

Apa yang disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman bukannya tanpa alasan yang mendasar. Dampak kekeringan di Jawa Timur, sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Wibowo Ekoputro, dari areal tanaman padi seluas 27.000 hektare di Jawa Timur, yang mengalami kekeringan, tercatat seluas 1.600 hektare puso.

Tidak hanya itu, kekeringan di Jawa Timur, sesuai laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur,  kekeringan juga mengakibatkan warga di 396 desa di sejumlah kabupaten/kota, mulai kesulitan air bersih, per 23 Agustus.

Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), juga mencatat saat ini terdapat sebanyak 102 kabupaten/kota di 16 provinsi sudah melangalami kekeringan.

Bisa dipastikan warga yang mengalami kesulitan air bersih akan terus bertambah, karena kemarau masih berlangsung. Sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Surabaya, musim hujan di Jawa Timur, akan terjadi Oktober.

"Pengaruh El Nino, mengakibatkan kemarau menjadi panjang. Tapi bukan masuknya musim hujan, tapi awal kemarau yang maju," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, Hirnowo.

Untuk mengatasi kekeringan, baik kekeringan yang melanda areal pertanian, juga kesulitan air bersih yang dialami warga, potensi air di Jawa Timur sebenarnya cukup melimpah.

Data di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Sungai Brantas dengan panjang 320 kilometer, memiliki potensi air permukaan per tahun rata-rata 12, 232 miliar meter kubik/tahun, dan baru termanfaatkan berkisar 5-6 miliar meter kubik/tahun. Dengan curah hujan rata-rata mencapai 2.000 mm/tahun sekitar 85 persen jatuh pada musim hujan.

Begitu pula, Bengawan Solo, yang melewati Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan panjang 584 kilometer, memiliki potensi air permukaan sekitar 18,4 miliar meter kubik/tahun, dan air tanah sekitar 3,012 miliar meter kubik/tahun. Sama halnya dengan Sungai Brantas, pemanfaatan potensi air Bengawan Solo, juga masih minim tidak lebih dari 15 persen.

Potensi air yang belum dimanfaatkan baik Sungai Brantas dan Bengawan Solo, selama ini selalu mengalir sampai jauh terbuang percuma ke laut, mirip syairnya lagu Bengawan Solo, ciptaan Sang Maestro Gesang.

Menyadari potensi air permukaan Bengawan Solo itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro merencanakan membangun 1.000 embung sebagai usaha memanfaatkan curah hujan di daerahnya yang masuk ke Bengawan Solo.

Namun, sebagaimana disampaikan Bupati Bojonegoro Suyoto, merealisasikan pembangunan 1.000 embung, tidak bisa berjalan dengan cepat, karena daerahnya hampir 50 persen kawasan hutan.

Pembangunan embung yang sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu, yang direalisasikan baru sekitar 300 embung.

"Sudah dua tahun kami mengajukan pemanfaatan kawasan hutan di sejumlah lokasi untuk lokasi embung dengan melengkapi berbagai persyaratan, tapi izin tidak kunjung turun dari Menteri Kehutanan," tuturnya.

Oleh karena itu, ia mendesak Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan soal pemanfaatkan lahan negara untuk menangani bencana kekeringan.

"Seyogyanya untuk pemanfaatan lahan negara dalam menanggulangi bencana tanpa harus melalui proses perizinan segala, sebab namanya saja bencana," paparnya, menegaskan.

Begitu pula, merealisasikan pembangunan Waduk Gonseng dan Bendung Karangnongko, Bengawan Solo di daerah setempat, juga bukan pekerjaan mudah. Selain harus tarik menarik dalam memanfaatkan tanah Perhutani, juga kebijakan Pemerintah Pusat, yang kurang "greget" untuk merealisasikan.

Dalam skala lebih besar lagi, memanfaatkan potensi air Bengawan Solo dengan membangun Waduk Jipang, di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, juga hanya sebatas wacana yang timbul tenggelam.

Merealisasikan Waduk Jipang yang mampu menampung air Bengawan Solo sekitar 700 juta meter kubik tersebut, terbentur dengan konflik sosial memindahkan puluhan ribu penduduk di sejumlah kecamatan di Bojonegoro dan Blora, Jawa Tengah.

Dalam hal pemanfaatan potensi air, Pendiri dan Pemimpin Indonesia Water Insitute, Dr. Ir. Firdaus Ali, M.Sc, mengingatka kalau Indonesia tidak segera membangun banyak waduk, maka kekeringan yang melanda di Indonesia pada 2040, akan seperti di Afrika.
    
Ia membandingkan untuk mengatasi krisis air, di Jepang, telah dibangun 3.000 waduk, Amerika Serikat 6.666 waduk, dan Indonesia membutuhkan 4.000 waduk, yang sekarang ini baru memiliki 284 waduk.

Tidak terlalu berlebihan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), memberikan gambaran skenario pengelolaan sumber daya air Bengawan Solo dalam empat burung yaitu Burung Garuda, Burung Hantu, Burung Gagak, dan Burung Merak.

Dari keempat skenario itu, untuk Burung Garuda, dengan memperhitungkan pada 2030 Indonesia menjadi negara sejahtera, maju dan negara yang stabil. Pertimbangannya, kebijakan dalam pengelolaan sumber daya air memperoleh perhatian Pemerintah dengan dukungan DPR.

Sebaliknya, skenario tiga burung lainnya, mengambarkan bahwa Indonesia akan menjadi negara yang "karut-marut", mulai jalan di tempat, bahkan gagal, karena tidak mampu mengelola sumber daya air, disebabkan kurangnya perhatian Pemerintah dan adanya pertarungan politik yang tak kunjung reda.

Dengan demikian, kekeringan di musim kemarau di Tanah Air, juga di berbagai daerah di Jawa Timur, baik areal pertanian juga kesulitan air bersih masih terus berlagu, di tahun-tahun mendatang.
......
Panas nian Kemarau ini
Rumput-rumput pun Merintih Sedih
Rebah tak Berdaya
di Terik Sang Surya
Bagaikan dalam Neraka.............
(The Rolies). (*).
Pewarta :
Editor: Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar