Pariwisata Menggeliat
Pariwisata Banyuwangi tampaknya kini mulai menggeliat. Dukungan promosi yang intens melalui teknologi informasi berupa internet, telah mampu menggerakkan potensi yang sebelumnya "tidur" menjadi roda penggerak perekonomian masyarakatnya.
Supiyanto, seorang warga Rogojampi, Banyuwangi, mengakui bahwa sektor pariwisata Banyuwangi kini mulai menggeliat. Wisatawan yang datang, benar-benar ingin menikmati keindahan alam dan kekayaan seni budaya yang dimiliki daerah ini.
"Bahkan, Banyuwangi yang sebelumnya dicitrakan sebagai daerah santet karena banyak 'dukun jodoh' di daerah ini, kini berubah sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Timur," katanya.
Banyuwangi memang pernah dicitrakan sebagai "Kota Santet". Di daerah ini pula pernah terjadi "tragedi santet" pada 1998. Akibatnya, cukup banyak orang yang diduga dukun santet menjadi korban.
Seorang budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan juga mengakui bahwa santet memang tumbuh di tengah masyarakat ujung timur Pulau Jawa itu. Namun, orang selalu salah kaprah dalam memahami santet Banyuwangi yang hanya mengaitkan dengan ilmu sihir.
Santet di Banyuwangi memang ada yang menyerupai ilmu sihir seperti yang juga ditemukan di daerah - daerah lainnya, tapi yang lebih banyak berkembang adalah ilmu santet yang berkaitan dengan pengasihan, yaitu cara bagaimana menimbulkan rasa simpati orang lain. Masyarakat Banyuwangi banyak yang menolak santet yang menyerupai sihir karena bertentangan dengan nilai-nilai budaya masyarakat setempat.
Dengan mulai masifnya informasi yang masuk, kondisi masyarakat Banyuwangi agaknya kini mulai terbuka dan berubah. Sektor pariwisata di Banyuwangi kini pun terus menggeliat menjadi penopang ekonomi masyarakat setelah sektor pertanian dan industri pengolahan. Semua sektor industri kreatif yang berbasis pariwisata di daerah ini mengalami peningkatan.
Berdasarkan survei oleh tim independen, wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi rata-rata membelanjakan Rp1,9 juta per orang dengan masa tinggal dua hari. Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor jasa hiburan kebudayaan misalnya, dalam setahun terjadi nilai tambah Rp22,3 miliar pada 2011 menjadi Rp26,2 miliar pada 2012.
Sektor kuliner, nilai tambah restoran meningkat dari Rp560,5 miliar menjadi Rp654,4 miliar, sedangkan sektor perhotelan tumbuh dari Rp286,6 miliar menjadi Rp341,8 miliar.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi peran serta Telkomsel dalam memajukan daerahnya. "Tentu pemerintah daerah tidak bisa bergerak sendirian. Telkomsel sebagai operator milik pemerintah Indonesia sangat berperan ikut membantu kami," ujarnya.
Dengan kerja sama tersebut maka semua pengguna Telkomsel yang memasuki Banyuwangi akan menerima pesan singkat (SMS) pemberitahuan tentang daerah-daerah wisata yang ada di kabupaten tersebut.
Banyuwangi DiSo
Selain sektor pariwisata, Banyuwangi kini juga memanfaatkan jasa internet untuk berbagai kebutuhan pemerintahan dan masyarakatnya. Perkembangan pemanfaatan internet di Banyuwangi tersebut diawali dengan pembentukan Desa Internet atau Cyber Village beberapa tahun silam.
Program itu diikuti dengan kegiatan-kegiatan pendukung lainnya, seperti peluncuran Friendly Digital Society bersama 3.000 siswa dari berbagai SMA se-Banyuwangi serta gerakan Aku Cinta Banyuwangi (I love Banyuwangi).
Desa Internet tersebut kemudian terus berkembang berkat dukungan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui penyediaan lebih dari 1.000 titik Wi-Fi di Banyuwangi. Banyuwangi Digital Society atau Banyuwangi DiSo diluncurkan pada 14 Februari 2013.
Wi-Fi merupakan singkatan dari Wireless Fidelity, yaitu salah satu varian teknologi komunikasi dan informasi yang bekerja pada jaringan dan perangkat wireless local area network (WLAN).
Direktur Enterprise and Wholesale PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) M. Awaluddin saat "soft launching|" Banyuwangi DiSo menjelaskan, selain akses internet cepat nirkabel Wi-Fi tidak kurang dari 1.000 titik, Telkom juga menggelar akses internet cepat melalui kabel di rumah-rumah atau digital home.
Selain itu, Telkom juga menyiapkan berbagai aplikasi pendukung seperti IndiGov (aplikasi pendukung untuk pemerintahan), Indischools (aplikasi pendukung untuk sekolah), dan Indipreneur (aplikasi pendukung untuk UMKM).
Atas keberhasilannya merintis pemanfaatan internet untuk berbagai kepentingan tersebut, Banyuwangi memperoleh penghargaan Indonesia Digital Society Award 2014 sebagai juara pertama. Penghargaan diserahkan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Jakarta pada 8 Mei 2014.
Penilaian untuk penghargaan tersebut meliputi pemanfaatan teknologi digital untuk kegiatan operasional bidang pendidikan, kesehatan, usaha kecil menengah dan swasta, serta masyarakat. Survei dilakukan terhadap lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan, UMKM dan masyarakat yang mencakup 19.000 responden.
Sedangkan kriteria yang dinilai di antaranya inisiatif daerah dalam mendorong digitalisasi, kemampuan kepemimpinan (leadership) daerah dalam mewujudkan rencana digitalisasi, tingkat penetrasi internet (usership), dan manfaat yang dinikmati publik atas adanya digitalisasi (benefit).
Penghargaan Indonesia Digital Society Award 2014 tersebut rencananya akan diwujudkan untuk membuat akses digital ke pondok pesantren-pondok pesantren yang cukup banyak di kabupaten ini.
"Teknologi informasi (TI) ini penting untuk memacu peningkatan pelayanan publik. Daerah maju antara lain karena digitalisasi. Selamat kepada Banyuwangi, semoga ke depan semakin baik lagi," ujar Tifatul Sembiring saat menyerahkan penghargaan.
Digitalisasi
The Independent Commission for Worldwide Telecommunication Development mengungkapkan bahwa telekomunikasi memiliki peran penting dalam meningkatkan efisiensi kegiatan ekonomi, perdagangan dan administrasi, memperbaiki efektivitas pelayanan sosial, mendistribusikan secara lebih merata manfaat sosial, kultural serta ekonomi dari hasil pembangunan ke seluruh komunitas dan negara.
Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Jadhie Judodiniar Ardajat bahkan memberikan gambaran, kenaikan 10 persen tingkat penetrasi broadband di negara berkembang termasuk Indonesia, bisa memicu pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38 persen.
Selaras dengan hal itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengakui bahwa instrumen teknologi informasi menjadi pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat. "Dengan TI, kita bisa efisien. Bisnis jadi mudah. Cari ilmu gampang. Promosi wisata efektif. Akhirnya kesejahteraan meningkat," kata Anas.
Berdasarkan data di Banyuwangi kini sudah ada 1.200 titik Wi-Fi. Pengakses Wi-Fi di Banyuwangi mencapai 164.372 per bulan pada kuartal I/2014, atau meningkat dibandingkan rata-rata tahun lalu sebesar 97.957 pengguna per bulan. Fasilitas Wi-Fi kabupaten ini tidak hanya di taman dan sekolah, tapi juga di masjid, gereja, dan pura.
Pemanfaatan teknologi informasi telah mengubah kinerja birokrasi menjadi lebih berorientasi ke publik. Dengan jangkauan layanan digital ke sektor pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga ekonomi, masyarakat semakin dimudahkan dalam menjalankan segala aktivitasnya. Digitalisasi membuat birokrasi menjadi transparan, akuntabel, kredibel, dan responsif.
Dia mencontohkan, penggunaan instrumen teknologi mendorong transparansi APBD. Bahkan Badan Pemerika Keuangan bisa melakukan audit keuangan daerah setiap saat (real time). Penggunaan APBD juga dibuka ke publik, sehingga terjadi kontrol yang efektif. Karena itu, laporan keuangan Banyuwangi mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) murni dari BPK.
Di bidang layanan kesehatan, ada "one call service" untuk ambulans yang terhubung dengan 150 unit ambulans dari 45 puskesmas dan seluruh rumah sakit yang ada. Ada pula aplikasi E-hospital yang mengintegrasikan 85 lembaga pelayanan kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit) di Banyuwangi. Selain itu, Banyuwangi memiliki sistem yang disebut Sistem Informasi Jaringan Elektronik Mendukung Pelayanan Optimal Kesehatan Banyuwangi (Si Jempol Sehat Si Jempol Wangi).
Di bidang pendidikan, ada Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan (Siap) Online yang membuat penerimaan siswa baru lebih transparan dan mendidik siswa secara lebih interaktif. Jalur pemantauan prestasi siswa juga bisa diakses oleh orang tua melalui instrumen teknologi informasi.
Di bidang birokrasi, terjadi akselerasi kinerja. Proses surat-menyurat menjadi lebih cepat, hanya 1-2 jam. Penyelesaian masalah-masalah di masyarakat juga tanpa harus rapat secara fisik sehingga efektif dan efisien.
Sementara itu. di bidang ekonomi, penerapan SMS Gateway dan instrumen lainnya memberi stimulus bagi dunia usaha. Investasi pun meningkat. Perizinan usaha naik dari 363 pada 2012 menjadi 5.490 pada 2013 atau naik 1.412 persen. Realisasi investasi naik dari Rp1,19 triliun pada 2012 menjadi Rp3,24 triliun pada 2013.
Selain itu, penerapan indipreneur klinik UMKM secara online dan komunitas pemuda wirausaha baru mampu merangsang peningkatan dunia usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sedangkan di bidang wisata, promosi dilakukan dengan pembuatan sistem operasi berbasis android. Dengan demikian, dana promosi wisata yang terbatas bisa dioptimalkan melalui internet. Dampaknya, tingkat kunjungan wisatawan naik. Wisatawan asing pada 2013 mencapai 10.462 orang atau naik sekitar 170 persen, sementara wisatawan domestik naik sekitar 23 persen menjadi 1.057.962 orang.
"Kami ingin teknologi informasi menjadi pilar bagi pengembangan Banyuwangi ke depannya. Infrastruktur bukan hanya jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandara, tapi juga infrastruktur teknologi informasi," kata Anas menambahkan.
Banyuwangi yang sebelumnya dikenal sebagai "Kota Klenik" atau "Kota Santet", kini telah berubah menjadi "Kota Ramah Internet". Banyuwangi telah berkembang pesat menjadi kota ramah internet (friendly digital society).
Replikasi
Direktur Utama Telkom Arief Yahya ketika meresmikan Banyuwangi DiSo berharap program dukungan Telkom bagi Kabupaten Banyuwangi menjadi "smart city" tersebut bisa segera direplikasikan ke seluruh Jawa Timur dan Indonesia.
"Banyuwangi DiSo merupakan komitmen Telkom untuk mewujudkan satu tujuan besar 'Indonesia Digital Network'. Kota lain di seluruh Indonesia diharapkan segera menyusul," kata dia.
Sejalan dengan itu Direktur Utama Telkomsel Alex J Sinaga di sela peresmian GraPARI Digilife Dago Bandung pada 21 Juli 2014 menyampaikan tekatnya untuk menjadikan Telkomsel sebagai lokomotif penggerak masyarakat menuju masyarakat digital.
Di Jawa Timur, Telkom bersama anak perusahaannya Telkomsel bahkan sudah siap mewujudkan "Jatim Bumi Broadband" melalui Digital Innovation Lounge (DILo). DILo yang diresmikan Direktur Utama Telkom Arief Yahya serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh tersebut didesain dengan konsep 3S, yakni Studying, Searching, Socializing.
Sedangkan untuk mendukung pengembangan pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat, Telkom telah mengembangkan program-program infrastruktur, konektivitas, aplikasi dan konten-konten yang dapat langsung diimplementasikan oleh pemerintah provinsi, pemerintah kota maupun pemerintah kabupaten yang dikemas dalam bentuk Indonesia Digital Society (INDISO).
Terkait dengan cita-cita tersebut , Telkomsel mengklaim hingga akhir Mei 2014 telah membangun 8.500 BTS. Penambahan BTS itu membuat Telkomsel di seluruh Indonesia mengoperasikan 77.800 BTS dan 33.000 BTS di antaranya merupakan Node-B yang telah mendukung teknologi internet 3G.
Sementara itu, Telkomsel Area Jawa-Bali tahun ini menargetkan 3.000 base transceiver station (BTS) tambahan dengan fokus Node-B dari 18.000 BTS yang ada saat ini. Pelanggan Telkomsel Jawa Bali yang kini mencapai 35 juta berkisar 40-50 persennya merupakan pelanggan data.
Telkomsel optimistis pada 2020 dapat mencapai target menjadi Digital Company yang 50 persen bisnisnya menggarap layanan data dan digital business (bisnis digital).
Jadi, jika merujuk dari pendapat sosiolog yang juga "futurolog" AlvinToffler seperti tertuang dalam bukunya The Third Wave dan Future Shock yang mengupas tentang tiga gelombang peradaban manusia serta kejutan masa depan, masyarakat Banyuwangi tampaknya kini menjadi sebuah potret nyata masyarakat yang sedang berada pada gelombang ketiga.
Peradaban manusia pada gelombang ketiga, menurut Toffler, di antaranya ditandai dengan tingginya pemanfaatan teknologi informasi serta tumbuhnya industri-industri baru yang sangat dinamis.
Sedangkan tiga gelombang peradaban manusia itu adalah gelombang peradaban pertama (800-1500 SM) yang dinamainya gelombang pembaruan, gelombang peradaban kedua (1500-1970 M) yang merupakan gelombang industri, dan gelombang ketiga (1970-2000 M) yang merupakan peradaban manusia informasi. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026