Oleh Dewanto Samodro Jakarta (Antara) - Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi menyatakan ideologi anti-NKRI bukan hanya datang dari paham "Islamic State of Iraq and Syria" (ISIS), tetapi juga ada pada kelompok transnasional lainnya. "Secara kebangsaan, kita harus bangga karena ancaman transnasional seperti ISIS disikapi oleh banyak orang. Tetapi, sikap kepada ISIS ini jangan menjadi yang terakhir," katanya di Jakarta, Rabu. Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA) itu mengatakan sikap penolakan juga harus ditunjukkan kepada kelompok-kelompok atau ideologi yang anti-NKRI dan terkesan dibiarkan. "Sebelum isu ISIS, di Indonesia sudah ada kelompok yang anti-NKRI dan mengusung kekhilafahan. Kelompok ini sudah lama ada di Indonesia dan juga rawan bagi NKRI," tuturnya. Hasib mengatakan NKRI adalah sistem bernegara yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Para pendiri negara pun bukanlah orang-orang yang tidak mengerti agama, karena banyak ulama yang ikut andil dalam mendirikan negara ini. "NKRI terbukti sebagai konsep ijtihad politik kebangsaan yang paling baik. Bandingkan saja dengan negara-negara di Timur Tengah. Di sana untuk mengganti satu presiden saja harus ada sekian ribu nyawa yang hilang," katanya. (*)
Berita Terkait
Din Syamsudin: Lawan ISIS dengan Ideologi
21 April 2015 19:16
HMI-Forpimda Pamekasan Deklarasi Tolak ISIS
18 Agustus 2014 13:05
Achmad Syafii: Jauhkan Pelajar dari Paham ISIS
15 Agustus 2014 08:43
Bupati Madiun Imbau Warga Waspadai Penyebaran ISIS
13 Agustus 2014 20:06
MUI: ISIS Lebih Berbahaya dari Kelompok Radikal
13 Agustus 2014 16:57
Pemkab Lumajang Deklarasi Tolak Gerakan ISIS
13 Agustus 2014 14:18
Danrem: Di Madura Tak Terdeteksi Gerakan ISIS
12 Agustus 2014 21:16
Pemkab Blitar Waspadai Jaringan Kelompok Radikal ISIS
12 Agustus 2014 19:35
