Johannesburg, (Antara/Xinhua-OANA) - Satu ledakan terjadi di Johannesburg di Afrika Selatan pada Selasa sore (12/11), sehingga menewaskan dua orang dan melukai lima orang lagi, kata polisi. Ledakan tersebut terjadi di sudut Jalan Bradford dan Nicol di Johannesburg, dan dua orang tewas di lokasi, kata polisi. Di antara korban cedera, tiga berada dalam kondisi kritis, kata Juru BicaraDinas Gawat Darurat Ekurhuleni William Ntladi. Jumlah korban jiwa mungkin bertambah sebab polisi tidak mengetahui berapa orang di dalam toko tersebut ketika ledakan terjadi. Menurut polisi, korban cedera telah dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Polisi menutup lokasi ledakan setelah peristiwa tersebut. Ahli forensik dan tim penjinak bom telah dikirim ke lokasi, kata Juru Bicara Polisi Neville Malila kepada wartawan. "Benar-benar kacau," kata Nasif Omar, yang tinggal tak jauh dari tempat ledakan, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu pagi. "Ada banyak polisi di seluruh daerah ini. Tetangga saya ketakutan. Mereka tidak tahu secara pasti apa yang terjadi." Malila mengatakan polisi sedang mencari pengusaha Radovan Krejcir, yang memiliki toko tempat bom itu meledak. Ia menyatakan polisi tidak mengetahui di mana Krejcir berada atau apakah masih ada peledak di dalam tokonya. "Tempat itu masih ditutup. Ahli forensik kami dan tim penjinak bom masih menyusuri tempat tersebut," kata Malila. Masih belum jelas apa penyebab ledakan tersebut, tapi Malila mengatakan satu orang diduga memasuki toko itu dengan membawa tas, yang berisi bom. "Tak lama setelah itu, terjadi ledakan," kata Malila. Ledakan tersebut diguga dilakukan dengan gaya Mafia. Dua orang yang tewas memiliki hubungan dekat dengan Krejcir, yang saat ini berjuang melawan ekstradisinya ke Republik Ceko --tempat ia menghadapi ancaman hukuman penjara, kata Eyewitness News. Pada Juli, Krejcir menjadi sasaran upaya untuk membunuh dia di luar kantornya di Bedfordview. Ia selamat tanpa cedera. Beberapa orang yang dilaporkan memiliki hubungan dengan Krejcir telah ditembak dan tewas selama dua-setengah tahun belakangan. (*)
Berita Terkait
Greenland: Kami tak mau jadi orang Amerika
5 jam lalu
Iran tuduh Amerika provokasi kerusuhan
16 jam lalu
Korut kecam Korsel atas penyusupan drone pengintai
10 Januari 2026 14:30
Trump: Pemimpin oposisi Venezuela berpeluang kelola pemerintahan
10 Januari 2026 12:33
Rusia tetap patuhi perjanjian kemitraan strategis dengan Venezuela
10 Januari 2026 10:21
Macron minta BRICS dan G7 tidak jadi blok yang saling bersaing
9 Januari 2026 14:08
