Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Brawijaya (UB) Prof Eko Ganis menyatakan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dicanangkan dibangun di Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi solusi mengatasi timbulan sampah harian di Malang Raya.
"PSEL adalah cara tercepat dalam mengatasi timbulan sampah, itu harus di cut (ditangani). Ibaratnya kita harus memutus generasi," kata Eko di Kabupaten Malang, Senin.
Ia juga menyingung soal pembangunan PSEL yang direncanakan di Pakis. Menurutnya, wilayah tersebut tergolong representatif lantaran letaknya berada dekat Gerbang Tol Pakis sehingga akan memudahkan distribusi sampah dari Kota Malang dan Kota Batu.
PSEL Malang Raya diproyeksikan mampu mengolah sampah sebesar 1.038 ton per hari.
Maka dari itu, kata dia, kelancaran pembangunan infrastruktur tersebut perlu dikawal oleh seluruh pihak, sehingga pelaksanaannya bisa berjalan dengan cepat.
"Frame work sampah, selain tumpukan, di situ ada aspek kesehatan, estetika, dan gas rumah kaca, sehingga harus dikelola dengan sangat bagus," kata dia.
Apabila rampung, dia optimistis PSEL Malang Raya mampu berkontribusi pada terealisasi target 100 persen pengolahan sampah pada 2029 dari Presiden Prabowo Subianto.
Rencana pelaksanaan proyek PSEL di Jawa Timur telah dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama. Selain Malang Raya, infrastruktur untuk waste to energy juga akan dibangun untuk wilayah Surabaya Raya.
Diketahui, PSEL Malang Raya sebelumnya direncanakan dibangun di Kota Malang, tetapi akhirnya ditempatkan di Kabupaten Malang.
Eko menjelaskan perubahan lokasi dikarenakan banyak faktor, seperti kesiapan lahan, akses jalan, hingga kondisi kepadatan penduduk.
Jika tetap dilaksanakan di Kota Malang, kata dia, maka konsekuensinya adalah potensi lonjakan biaya untuk melakukan penyesuaian infrastruktur dengan kriteria proyek PSEL.
"Terus dari kesiapan lahan di (TPA Supit Urang) ada tumpukan sampah sekitar 20 meteran dan itu harus diambil sehingga ada biayanya. Mencari lahan minimal (seluas) lima hektare di kota susah, kalau di Batu konturnya tidak mendukung," ujar dia.
Prof Eko memastikan senantiasa mengawal keberlangsungan proyek PSEL ini sebagai cara cepat mengatasi masalah timbulan sampah yang muncul setiap harinya.
"Karena itu instruksi dari rektor untuk terlibat, beberapa waktu lalu sudah rapat dan semua jajarannya memerintahkan kami untuk melakukan penilaian," tuturnya.
Pewarta: Ananto PradanaEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026