Surabaya (ANTARA) - Sebanyak 34 guru mayoritas dari Jawa Timur mengikuti program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan oleh lembaga nonprofit Institut Leimena di Surabaya.
Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho di Surabaya, Sabtu mengatakan pihaknya bersama dengan 40 mitra dari institusi pendidikan, ormas keagamaan dan kementerian atau lembaga, menyasar kepada para guru sebagai agen-agen perubahan dalam masyarakat untuk mengatasi tantangan intoleransi.
"Sebanyak 34 guru mayoritas dari wilayah Jawa Timur mengikuti Hybrid Upgrading Workshop LKLB. Para guru ini adalah bagian dari 10.500 alumni LKLB dari 38 provinsi di Indonesia yang sudah mengikuti pelatihan tahap dasar," katanya.
Matius mengatakan program LKLB dikembangkan untuk membangun rasa saling percaya dengan memerangi prasangka dan stereotipe negatif terhadap orang lain yang berbeda.
"Fokus ini krusial karena prasangka dan ketakutan terhadap orang lain yang berbeda adalah bibit subur bagi konflik sosial," kata Matius Ho.
Ia mengatakan, program LKLB melampaui keterbatasan dialog antaragama tradisional yang sering kali berhenti pada tahap mengenal, sebaliknya pengetahuan tentang orang lain yang berbeda agama tidak selalu diterjemahkan menjadi empati dan solidaritas.
"Pendekatan LKLB berangkat dari tiga kompetensi dasar yaitu pribadi, komparatif, dan kolaboratif," tuturnya.
Menurut Matius, program LKLB yang dijalankan Indonesia telah menarik minat sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Filipina, yang mengirimkan enam delegasi dari Mindanao State University System dalam Workshop LKLB di Surabaya kali ini.
"Delegasi dari Mindanao, Filipina, ingin mengintegrasikan model pendidikan LKLB ke dalam kurikulum di kampus mereka," ucapnya.
Wakil Indonesia di Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR) 2019-2024 Yuyun Wahyuningrum mengatakan pendekatan LKLB membuka jalan yang selama ini terasa tertutup dalam diskursus agama di kawasan Asia Tenggara.
"LKLB menawarkan bahasa yang jujur, aman, dan membumi untuk membicarakan agama, bukan sebagai sumber ketegangan, melainkan sebagai ruang perjumpaan dan pembelajaran." katanya.
Menurut Yuyun, pendekatan LKLB menjadi penting diangkat ke kawasan Asia Tenggara karena seringkali isu agama diakui sebagai isu penting, namun enggan dibahas secara terbuka.
“Perbedaan agama kerap dilihat lebih sebagai masalah daripada sebagai bagian dari identitas regional, bagian yang penting untuk perdamaian atau sebagai solusi,” kata Yuyun sebagai narasumber utama Workshop LKLB di Surabaya.
