Kediri (ANTARA) - Perum Jasa Tirta (PJT) I mendukung pelaksanaan Zero Waste Academy (ZWA) yang diselenggarakan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) untuk menjaga Sungai Brantas dari sampah.
Direktur Utama PJT I Fahmi Hidayat dalam keterangan di Kediri, Kamis, mengemukakan keterlibatan PJT I dalam Zero Waste Academy bagian dari komitmen perusahaan menjaga keberlanjutan kualitas sumber daya air.
“Perlindungan sungai tidak dapat hanya mengandalkan upaya di badan air, tetapi harus dimulai dari pengelolaan sampah di sumbernya," katanya.
Pihaknya mendorong penguatan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan agar mampu mengelola sampah secara bertanggung jawab sebagai wujud dukungan terhadap Zero Waste Academy tersebut.
"Muaranya yang diharapkan bersama adalah beban pencemaran ke sungai berupa sampah dapat ditekan secara signifikan,” ujar dia.
Narasumber dari PJT I dalam acara Zero Waste Academy tersebut, Aulia Agusta Alamsjah, membagikan pengalaman lapangan PJT I dalam pengendalian sampah di badan sungai, termasuk pemasangan trash barrier di berbagai lokasi strategis untuk mencegah sampah masuk infrastruktur penting sumber daya air.
Ia mengungkapkan PJT I selama ini menangani sampah yang terlanjur masuk sungai melalui pengumpulan rutin, kemudian diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Salah satunya, katanya, di Waduk Sengguruh, Kabupaten Malang dengan volume sampah yang ditangani sekitar 35.000 meter kubik per tahun.
Ia mengatakan limbah yang sering masuk Sungai Brantas berasal dari aktivitas rumah tangga, sekitar 57,1 persen limbah padat.
Ia mengatakan cakupan layanan persampahan di wilayah pedesaan masih terbatas, yakni sekitar 15 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut berkontribusi terhadap kebocoran sampah ke sungai serta meningkatkan risiko pencemaran, termasuk temuan mikroplastik pada ikan di Sungai Brantas.
"Praktik ini menjadi pembelajaran penting bagi para peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa mengenai tantangan dan penanganan sampah di badan sungai," kata dia.
Dukungan terhadap Zero Waste Academy ini, kata dia, sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas sungai yang harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir dan dari darat ke air.
Zero Waste Academy ruang belajar strategis dalam penguatan pengelolaan sampah dari sumber.
Dalam kegiatan yang dikemas melalui lokakarya Zero Waste Academy, acara tersebut diikuti lebih dari 50 peserta. Mereka berasal dari lebih dari 12 kota/kabupaten di Pulau Jawa, melibatkan unsur pemerintah, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan hidup.
Kegiatan tersebut bertujuan mendorong perlindungan Sungai Brantas dari hulu hingga hilir melalui pendekatan sistemik berbasis pencegahan timbunan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas.
Dia mengharapkan kolaborasi multi pihak tersebut, dapat memperkuat ekosistem pengelolaan sampah berbasis pencegahan sehingga peran Sungai Brantas sebagai sumber kehidupan dapat terwujud secara berkelanjutan.
