Banyuwangi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus mendorong penguatan budidaya dan pascapanen hingga pemasaran jenis kopi premium yaitu arabika yellow caturra dan arabika yellow bourbon agar mampu bersaing di pasar global.
Kopi arabika yellow caturra yang tergolong langka dan memiliki nilai jual tinggi di pasar kopi kelas atas itu tumbuh di jalur pendakian lereng Gunung Raung wilayah selatan Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Kalibaru.
"Ini salah satu jenis kopi premium yang dimiliki Banyuwangi, tidak banyak daerah di Indonesia yang bisa mengembangkan yellow caturra dan yellow bourbon dengan kualitas baik. Tapi, Banyuwangi punya keunggulan itu," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Rabu.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi Danang Hartanto menyampaikan kopi premium itu ditanam di lahan seluas 7 hektare dengan produktivitas rata-rata mencapai 1 ton per hektare, dan dari luas tersebut, total produksi biji kopi mencapai 7 ton per tahun.
"Kopi yellow caturra dan yellow bourbon kini mulai dikembangkan secara serius, karena kondisi geografis lereng Gunung Raung sangat mendukung pertumbuhan kopi arabika berkualitas ekspor ini," katanya.
Selain itu, lanjut dia, tanah vulkanik yang subur, ketinggian wilayah, serta iklim sejuk menjadi faktor utama pembentuk karakter rasa kopi arabika yang langka tersebut.
Danang menjelaskan topografi lereng Gunung Raung di wilayah Kecamatan Kalibaru sangat ideal, mulai tanah yang subur, iklimnya cocok, sehingga menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas dan berpotensi besar untuk pasar internasional.
Berdasarkan asal usul kopi arabika jenis ini, lanjut dia, varietas arabika yellow caturra diyakini berasal dari Kolombia, Kosta Rika dan Nikaragua, kemudian dikembangkan di Brasil, termasuk kopi yellow bourbon juga berasal dari Brasil.
Di Indonesia, menurut dia, varietas ini dibawa pada masa Kolonial Belanda dan dapat ditemukan di beberapa daerah dataran tinggi saja seperti di Jawa Barat, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (Flores).
"Ciri kopi ini dikenal karena buahnya berwarna kuning saat matang dan menawarkan rasa manis serta asam yang seimbang," kata Danang.
Ia menambahkan pengembangan kopi langka ini juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi produk pertanian Banyuwangi untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.
"Kami tidak hanya mengejar kuantitas, tapi kualitas, dengan kopi premium seperti ini, harga jualnya jauh lebih baik dan berdampak langsung pada pendapatan petani," tutur Danang.
