Malang Raya (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menyatakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara intensif oleh puskesmas dan fasilitas kesehatan (faskes) efektif mengendalikan angka kasus demam berdarah dengue (DBD).
"Kami menyampaikan kepada puskesmas dan faskes untuk menginformasikan kepada masyarakat soal kondisi cuaca, kemudian dengan PSN karena salah satu langkah yang paling efektif mengendalikan DBD," kata Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif di Kota Malang, Jawa Timur, Senin.
Berdasarkan data dari Dinkes Kota Malang, pada periode 2023 terdapat 462 kasus DBD, pada 2024 jumlah kasus penyakit tersebut mengalami peningkatan dan mencapai 777 kasus.
Pada periode 2025, angka kasus DBD di Kota Malang mengalami penurunan 62 kasus atau tercatat sejumlah 715 kasus.
Jika dirinci per kecamatan, wilayah Sukun memiliki perkembangan kasus DBD yang masif, yaitu 118 kasus pada 2023 kemudian naik menjadi 192 kasus pada 2024 dan 2025, sedangkan Kecamatan Lowokwaru menjadi wilayah dengan kemunculan angka DBD yang sedikit dalam kurun waktu tiga tahun, yaitu 82 kasus pada 2023, 116 kasus pada 2024, dan 89 kasus pada 2025.
Upaya pengoptimalan PSN juga dibarengi upaya lain, seperti dengan program menguras, menutup, dan mendaur ulang (3M) dan 3M Plus yang meliputi memelihara ikan pemakan jentik nyamuk hingga penanaman tanaman pengusir nyamuk.
Ia mengatakan DBD memang ditemukan setiap tahun, khususnya saat Maret dan April yang menjadi masa puncak sebaran.
"Kalau perindukan (berkembang biak) nyamuk hilang maka perkembangan bisa ditekan sehingga rantai penularan turun," ujar dia.
Selain melalui puskesmas dam faskes, Dinkes juga mendorong seluruh instansi di lingkungan pemerintah kota dan swasta supaya membantu upaya pemberantasan nyamuk Aedes aegypti melalui program yang sudah ada.
Langkah ini juga bertujuan meningkatkan persentase bebas nyamuk di Kota Malang, di mana jumlahnya masih 92 persen dari target ideal 95 persen.
Dia mengharapkan serangkaian upaya yang dilakukan mampu memberikan dampak terhadap penurunan angka kasus pada 2026.
Pewarta: Ananto PradanaEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026