Surabaya (ANTARA) - Kasus viral seorang guru SMK dikeroyok murid-muridnya di Jambi sangatlah memprihatinkan.
Sebelumnya, juga di Jambi, kasus ibu guru SD yang memangkas rambut pirang muridnya, berujung pada status tersangka yang sangat menggemaskan. Bagaimana bisa murid-murid mutakhir cenderung sensitif, emosional, dan kurang etika secara sosial?
Andaikan murid-murid itu "gila sastra", dipastikan dua ironi pendidikan itu tidak akan terjadi. Sebab, sastra itu bisa melembutkan hati, menstabilkan emosi, serta menciptakan simulasi pikiran yang menyadarkan.
Sastra pendidikan, sebagaimana sastra horor, sastra pariwisata, sastra rempah, dan sastra maritim; hakikatnya merupakan bidang interdisipliner, yang menghubungkan dua bidang ilmu. Sastra pendidikan juga bersifat interdisipliner.
Hakikat sastra pendidikan, merupakan karya sastra yang kuat substansi nilai edukasinya. Dalam momentum Hari Pendidikan Internasional (HPI), 24 Januari 2026, menarik dipikirkan perlunya terobosan baru, salah satunya mendekatkan sastra pendidikan di sekolah untuk penguatan karakter peserta didik yang lebih beradab. Artinya, sastra menjadi urgen dijadikan media pendidikan moral, karakter, jiwa, dan spiritualitas anak didik, agar moralitas dan karakter mereka terbentuk secara infiltratif, menyelinap secara tidak sadar.
Pengalaman penulis berbicara, murid yang akrab sastra memiliki kualitas emosi, kematangan mental, kecerdasan berpikir, dan kualitas spiritualitas, berbeda jika dibandingkan murid yang tidak suka sastra. Sebuah tesis empirik yang menarik dieksplorasi lebih jauh.
Murid suka sastra dan tidak, karakter dan mentalitas bak bumi dan langit. Sastra pendidikan jelas menawarkan panorama pergulatan sastra yang indah dan bermanfaat. Serupa taman indah, keindahannya berisi tumbuhan nilai spiritualitas yang asyik dipetik.
Di sinilah, istilah "dulce et utile" dari Horatius, yang dikutip Teeuw dalam buku "Sastra dan Ilmu Sastra", menarik direnungkan. Sastra harus "menyenangkan dan bermanfaat". Sebuah konsep klasik, yang mengingatkan bagaimana sastra harus berkontribusi, bukan saja pada kenikmatan (dulce), tetapi juga menghadirkan nilai edukatif moral (utile) bagi pembacanya.
Pesan filososif sastra pendidikan akan menyadarkan pentingnya karya sastra untuk mampu berbicara lembut tentang nilai-nilai pendidikan. Hal ini, sebagaimana seni film, yang dikenal dengan film pendidikan, yang populer di masyarakat lebih awal.
Karya sastra yang bisa dikategorikan sastra pendidikan bisa puisi, cerpen, novel, dan drama. Sudah waktunya kita mendekatkan karya sastra dalam kehidupan murid, sehingga dapat digunakan untuk membentuk karakter yang lebih efektif dibandingkan ajaran teori moral, tanpa keteladanan. Banyak karya sastra bertema pendidikan umum, pendidikan sosial budaya, politik pendidikan, dan spiritualitas pendidikan yang bisa dioptimalkan.
Di bidang puisi, misalnya, kita bisa mengangkat puisi-puisi berikut: "Kupu-kupu di Dalam Buku" dan "Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang" karya Taufiq Ismail; "Kami Berdua" dan "Kepada Awan Lewat" karya W.S. Rendra; "Teratai" karya Sanusi Pane; "Ki Hadjar Dewantara" karya A.K. Wardhani; serta "Hari Pertama Sekolah", "Tanda Seru", dan "Pada Suatu" karya Joko Pinurbo.
Jika mau mengeksplorasi lebih jauh, masih banyak puisi bertema pendidikan: "Selamat Pagi Indonesia" (Sapardi Djoko Damono), "Kita Sudah Beribu Kali Bicara" (Apip Mustopa), "Ibuku yang Cantik" (Kamilah Siswati), "Kepada Ibu Guru" (Sides Sudyarto D. S.), "Sekolahku Rumah Bagiku" (Cello), "Pulang Sekolah" (Lastri Fardani Sukarton), "Di Halaman Sekolah" (Aris Setiyanto), "Sekolah" (Sugiarta Sriwibawa), dan "Belajar Membaca" (Andy Sri Wahyudi).
Novel-novel pendidikan juga menarik dijadikan materi pembelajaran sastra di sekolah. Pertama, sejumlah novel bertema motivasi pendidikan yang bisa menginspirasi murid, di antaranya karya Andrea Hirata (AH) macam: "Laskar Pelangi" (2005), "Sang Pemimpi" (2006), "Edensor" (2007), dan "Maryamah Karpov" (2008). Ada juga novel inspiratif dengan tokoh guru yang kuat lain, yakni "Guru Aini" (2020).
Novel pendidikan sejenis, lahir dari sastrawan Ahmad Fuadi, yang dikenal sebagai trilogi "Negeri 5 Menara", yang meliputi novel "Negeri 5 Menara" (2009), "Ranah 3 Warna" (2011), dan "Rantau 1 Muara" (2013). Sebuah trilogi novel pendidikan yang menginsipirasi.
Di dalamnya, menerjemahkan pesan motivasi proses pendidikan yang meliputi tiga mantra ajaib: "man jadda wa jadda", "man shabara zhafira" dan "man saara ala darbi washala".
Siapa yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan; kemudian dalam proses menikmati pendidikan seseorang harus sabar yang akan melahirkan keberuntungan; akhirnya: siapa berjalan di jalannya, akan sampai ke tujuan.
Kedua, sejumlah novel bertema pendidikan keluarga dan sosial sehingga menginspirasi karakter pembaca; apa, bagaimana, dan mengapa penting menjadi anak yang baik. Dua novel karya AH berjudul "Orang-Orang Biasa" (2019) dan "Ayah" (2015) atau "Kerumunan Terakhir" karya Okky Madasari.
Butuh kreativitas
Dalam mewujudkan harapan peserta didik berkarakter melalui sastra pendidikan, paling tidak dibutuhkan kreativitas sebagai berikut.
Pertama, guru yang banyak membaca karya sastra, sehingga mampu memilih di antara karya sastra yang kuat akan nilai pendidikan yang ada di dalamnya. Paling tidak, bertemu dengan sejumlah karya yang dikemukakan sebelumnya.
Kedua, kreatif dalam menemukan nilai pendidikan, kemudian dikaitkan dengan kehidupan nyata yang dialami anak didik. Bagaimana menumbuhkan semangat hidup orang kecil, misalnya, bisa memanfaatkan novel "Orang-Orang Biasa" karya AH. Sementara, novel "Ayah", bisa digunakan untuk mengingatkan ketulusan seorang ayah dalam memperjuangkan pendidikan anaknya, meski tidak berhubungan darah.
Ketiga, butuh kemampuan guru dalam menyadarkan hakikat "kekuatan kemiskinan" sebagai pesan Tuhan kepada murid, bisa memanfaatkan novel "Laskar Pelangi" karya AH. Mengubah cerita novel jadi energi yang menghipnotis para murid sehingga menjelma laskar kehidupan yang sukses. Manipulasi imaji tokoh Ikal di dalamnya, penting dijadikan simbol diri, sehingga siswa tergerak menirukannya.
Keempat, untuk pendidikan kesadaran akan dampak media sosial, misalnya, guru dapat memanfaatkan novel Okky Madasari berjudul "Kerumunan Terakhir". Media sosial dan teknologi informasi, serupa pisau bermata mata dua. Sebuah ancaman, sekaligus peluang yang harus disadari para siswa.
Kelima, untuk kepentingan pendidikan antikorupsi guru bisa memanfaatkan ragam novel macam "Orang-Orang Proyek" karya Ahmad Tohari, "Korupsi" karya Pramoedya Ananta Toer, "Senja di Jakarta" karya Mochtar Lubis, "0 Kilometer" karya Iman Brotoseno, dan "Entrok" karya Okky Madasari.
Bisa juga memanfaatkan kumpulan cerpen Agus Noor berjudul "Lelucon Para Koruptor". Sebuah kumcer yang mengangkat kritik atas realitas korupsi di negeri kita dengan gaya bercanda, dengan lelucon-lelucon sangat kocak, surealis dan komikal.
Keenam, hadirnya guru yang gila sastra, baik secara reseptif maupun reproduktif. Di sini, benar-benar penting kehadirian guru gila sastra agar fungsi nilai-moral sastra bisa sampai kepada anak didik. Ingat, sastra itu taman nilai, nilai pendidikan karakter dan spiritualitas yang indah. Dengan kreativitas guru macam ini dan keberanian berbeda, akan mampu mendekatkan sastra pendidikan secara mengena.
Jika keberadaan guru sastra demikian hadir di ruang-ruang kelas, maka besar harapan bahwa sastra bisa melembutkan jiwa, menumbuhkan empati, mencerdaskan emosi, dan menyalakan pikiran; akan mudah terwujud. Mentalitas dan karakter peserta didik menjadi tangguh, tidak mudah rapuh sebagaimana kecenderungan remaja mutakhir.
Terwujudnya murid gila sastra, akan melahirkan budaya literasi sastra yang kuat. Literasi sastra itu menguatkan pemahaman hakikat pendidikan, pemaknaan pentingnya pendidikan, penyadaran nilai makrifat pendidikan, dan bagaimana mereka mampu memanfaatkan untuk memecahkan persoalan hidup.
Sebuah mimpi terwujudnya anak didik unggul dengan karakter kuat di masa depan. Sebab, pikiran, hati, jiwa, dan rasa telah terlatih lewat karya sastra. Karakter dan kepribadian pun akan hebat. Ingat, sastra sesungguhnya sebuah simulator jiwa dan pikiran sehingga memberikan pendidikan simulatif bagi para siswa.
* Dr H Sutejo, MHum adalah dosen di lingkungan LLDIKTI VII Jawa Timur, mengajar di STKIP PGRI Ponorogo
