Surabaya (ANTARA) - Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya bersama Kyoto University Jepang mengembangkan sistem pendinginan pasif pada Balai RW Kampung Ketandan Surabaya sebagai bagian program internasionalisasi kampus.
“Inisiatif ini kemudian ditindaklanjuti secara kolaboratif bersama warga Kampung Ketandan, Untag Surabaya, OHS Habitat Studies, dan didukung penuh oleh Konsulat Jepang. Desain ulang Balai RW menghasilkan efisiensi energi yang luar biasa,” ujar Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di Surabaya, Rabu.
Desain bangunan balai mengalami perubahan seperti peninggian atap, pemasangan exhaust untuk membuang udara panas, serta ventilasi bawah yang menurunkan kebutuhan pendinginan mekanis.
Selain desain fisik, balai kini dilengkapi pengelolaan berbasis aplikasi MyEco menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk sistem sewa ruang yang ditetapkan Rp20 ribu per empat jam.
Dekan Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Retno Hastijanti, menegaskan bahwa proyek ini merupakan hilirisasi riset yang menyatu dengan strategi internasionalisasi kampus.
Pendampingan Untag Surabaya di Kampung Ketandan berlangsung sejak 2016 melalui pembangunan balai warga untuk memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Pengembangan dilakukan dengan pendekatan co-design atau perancangan bersama warga, serta skema pentahelix yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, akademisi dari Untag Surabaya, Kyoto University, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, serta dukungan industri dan media.
Untag-Kyoto kembangkan pendinginan pasif Balai RW Ketandan
Rabu, 10 Desember 2025 19:13 WIB
Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak saat meresmikan Balai RW Kampung Ketandan Surabaya, Rabu (10/12/2025). (ANTARA/Willi Irawan)
Desain ulang Balai RW menghasilkan efisiensi energi yang luar biasa
