Gedung Singa bukan hanya dibangun oleh Berlage, tetapi juga oleh masyarakat Surabaya
Surabaya (ANTARA) - Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengenalkan konsep arsitektur kolaboratif ala Hendrik Petrus Berlage kepada mahasiswa, melalui kajian sejarah bangunan dan keterlibatan lintas disiplin seni dalam proses perancangannya.
“Yang menarik dari Berlage adalah bagaimana ia melihat arsitektur tidak hanya dari sisi bangunan, tetapi juga melibatkan banyak disiplin seni. Dalam proyeknya, ia menggandeng pematung, pelukis, hingga seniman lain untuk membangun rasa dalam karya arsitektur,” ujar moderator International Guest Lecture "Regionalism Architecture: The World Of Berlage" dari Begandring Surabaya Ar. Yayan Indrayana, IAI., di Surabaya, Senin.
Menurut Yayan, pendekatan kolaboratif tersebut relevan bagi mahasiswa arsitektur saat ini untuk membangun karya yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai budaya dan emosional.
“Arsitektur bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga menghadirkan rasa dan identitas. Itu yang bisa dipelajari mahasiswa dari pemikiran Berlage,” tuturnya.
Sementara itu, keynote speaker Petra Timmer dari TiMe Amsterdam mengungkapkan Gedung Singa di Surabaya menjadi salah satu karya penting Berlage yang juga melibatkan masyarakat lokal dalam proses pembangunannya.
“Gedung Singa bukan hanya dibangun oleh Berlage, tetapi juga oleh masyarakat Surabaya. Saya menemukan sumber langka yang secara eksplisit mencantumkan nama-nama orang Indonesia yang terlibat dalam pembangunan gedung tersebut, termasuk pekerjaan dan upah mereka,” ujarnya.
Ia mengatakan temuan tersebut penting dikenalkan kepada mahasiswa agar memahami bangunan kolonial telah menjadi bagian dari identitas sejarah Surabaya dan Indonesia.
“Awalnya mungkin merupakan bangunan kolonial Belanda, tetapi setelah sekian lama berada di Surabaya, kini menjadi warisan Surabaya dan Indonesia. Bangunan itu menyimpan cerita masyarakat yang hidup dan bekerja di dalamnya,” katanya.
Selain membahas sejarah, Petra juga menekankan pentingnya kesadaran sosial dalam praktik arsitektur karena bangunan pada akhirnya menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat.
“Arsitektur adalah bagian dari kota. Bangunan mungkin dibuat untuk bank atau perusahaan tertentu, tetapi pada akhirnya menjadi milik semua orang karena mereka melihat, menggunakan, dan hidup bersama bangunan itu,” katanya.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.