Jakarta (ANTARA) - Aktivitas olahraga yang dipadukan dengan aktivitas wisata atau sports tourism bisa menjadi pintu masuk untuk menggerakkan roda ekonomi dan sekaligus mengerek citra negara.
Dalam bisnis pariwisata, pantai, gunung, atau atraksi budaya merupakan aset ekonomi. Kini, aset itu bertambah. Lintasan lari, jalur sepeda, dan stadion pun bisa menjadi aset ekonomi. Sejumlah negara sudah membuktikan bahwa objek wisata olahraga saat ini mampu menciptakan arus wisata yang stabil sepanjang tahun.
Pada dasarnya, sports tourism menggabungkan dua hal, yakni kecintaan orang terhadap olahraga dan keinginan mereka untuk menjelajah tempat baru. Ketika keduanya bertemu, muncullah motivasi kuat untuk bepergian jauh demi pengalaman baru. Dengan demikian, olahraga ditempatkan sebagai alasan perjalanan. Jadi, bukan sekadar aktivitas sampingan.
Dampak ekonomi wisata olahraga sangat luas. Ia menyentuh banyak sektor. Hotel terisi, restoran menggeliat, transportasi meningkat, hingga pemandu wisata lokal ikut merasakan manfaatnya. Satu ajang besar, misalnya, bisa menciptakan rantai ekonomi yang tidak mungkin terjadi pada kunjungan wisata biasa.
Karakter wisatawan olahraga pun sangat menarik. Umumnya, mereka bersedia membelanjakan uang yang lebih tinggi. Mereka ini membeli paket pengalaman, bukan sekadar tiket acara. Hal ini terbukti dari berbagai studi yang menunjukkan bahwa pengeluaran wisatawan olahraga bisa dua hingga tiga kali lipat dibandingkan wisatawan umum.
Ketika Indonesia berhasil menarik segmen ini, maka devisa yang masuk bakal lebih besar dan lebih merata. Wisatawan olahraga biasanya datang dalam kelompok dan tinggal lebih lama, serta aktif mencari aktivitas dukungan. Artinya, dampak kehadiran mereka bakal menetes hingga ekonomi akar rumput.
Kontribusi sektor wisata olahraga terhadap produk domestik bruto (PDB) tidak cuma berasal dari tiket dan penginapan. Ada pula efek ganda dari pengeluaran yang terjadi secara berulang dalam rantai pasok. Oleh sebab itu, jika dikelola secara konsisten, sports tourism dapat menjadi penopang baru pertumbuhan ekonomi.
Akan tetapi, potensi sports tourism tidak hadir otomatis. Ia butuh perencanaan yang matang. Wisatawan senantiasa membutuhkan kepastian soal transportasi yang mudah, layanan profesional, serta infrastruktur yang aman. Tanpa itu, objek wisata olahraga hanya akan menjadi tempat yang dikunjungi sekali saja.
Karena itu, fasilitas olahraga Indonesia perlu dikemas ulang agar tidak "hidup" hanya saat ada ajang-ajang pertandingan. Model tur stadion, museum olahraga, dan paket edukatif dapat menciptakan kunjungan wisatawan sepanjang tahun. Ini menambah pendapatan tanpa harus menunggu ajang tertentu dilangsungkan.
Anfield Stadium di Liverpool, Inggris, yang menjadi markas Liverpool FC, bisa menjadi contoh bagaimana sebuah stadion menjelma menjadi ikon wisata kelas dunia. Pengelola menciptakan cerita, bukan sekadar menjual tiket tur. Narasi sejarah klub menjadi daya tarik emosional yang tidak bisa dicuri negara lain.
Jika Indonesia meniru konsep ini, stadion-stadion nasional kita dapat menjadi sumber ekonomi baru. Bayangkan GBLA di Bandung, JIS di Jakarta, atau Mandala Krida di Yogyakarta menjadi tujuan wisata harian, bukan hanya sebagai arena pertandingan. Dengan narasi yang kuat, stadion-stadion ini bisa hidup sebagai ruang edukasi dan juga hiburan.
Citra negara
Selain menggelontorkan devisa, wisata olahraga yang terkait dengan gelaran ajang-ajang olahraga internasional di Tanah Air juga berperan besar dalam pembentukan citra negara.
Ketika penyelenggaraan sukses, dunia melihat Indonesia sebagai negara yang mampu mengelola logistik, keamanan, dan keramaian skala besar. Ini turut menciptakan kepercayaan yang jarang bisa dibeli lewat kampanye promosi pariwisata biasa.
Citra positif ini menjadi modal penting dalam hubungan ekonomi internasional. Investor niscaya mencari negara yang kompeten, stabil, dan berpengalaman dalam manajemen kegiatan. Dalam ekonomi global, kepercayaan semacam ini bernilai setara dengan insentif pajak.
Kepercayaan tersebut melempangkan pula jalan bagi investasi di sektor lain, terutama pariwisata dan infrastruktur. Investor hotel, maskapai, dan operator internasional akan lebih mudah memutuskan untuk melakukan ekspansi bisnis mereka. Pada titik ini, olahraga menjadi katalis yang melampaui batas industrinya sendiri.
Wisata olahraga juga menjadi jembatan antara permintaan global dan kapasitas lokal. Di satu sisi, wisatawan membawa uang, di sisi lain, Indonesia menyediakan pengalaman yang bernilai tinggi. Hubungan saling menguntungkan ini akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Namun, untuk mampu mewujudkan hal tersebut, ekosistem lokal harus dibentuk dengan serius. Tidak cukup hanya mengandalkan satu ajang besar tanpa langkah tindak lanjut. Komunitas olahraga harus pula dilibatkan agar ada aktivitas rutin yang menopang industri sepanjang tahun.
Konsistensi tentu menjadi kunci. Ajang rutin tahunan bakal membangun identitas dan loyalitas wisatawan. Ketika sebuah kota dikenal rutin menyelenggarakan ajang olahraga berkualitas, wisatawan olahraga akan menjadwalkan kunjungan mereka secara otomatis.
Penyelenggaraan ajang yang konsisten juga memberi kepastian bagi pelaku usaha lokal. Mereka bisa meningkatkan kapasitas layanan, memperluas produk, dan mempersiapkan pengalaman yang lebih profesional. Dengan begitu, kualitas wisata lokal naik seiring meningkatnya permintaan.
Sektor swasta memegang peran krusial sebagai pengungkit dalam hal ini. Contohnya, sponsor internasional yang membawa sumber daya dan pengalaman baru dalam penyelenggaraan ajang dan sekaligus menempatkan Indonesia dalam jaringan global yang lebih luas.
Pemerintah diharapkan berperan sebagai fasilitator dengan menciptakan regulasi yang bersahabat. Kemudahan izin, kepastian keamanan, dan standar pelayanan adalah fondasi utama. Ketika fondasi kuat, investor dan penyelenggara merasa aman untuk membangun program jangka panjang.
Lintas negara
Pada level internasional, wisata olahraga membuka peluang besar untuk dilakukannya kerja sama lintas negara. Contohnya, Indonesia bisa membuat liga regional untuk cabang olahraga tertentu; paket ASEAN Sports Trail, atau tur lintas batas berbasis olahraga. Kolaborasi ini bisa memperkuat posisi Indonesia di Asia Tenggara.
Kerja sama semacam itu memberi pula peluang bagi Indonesia untuk memperkuat pengaruh ekonomi di kawasan. Negara yang mampu menyediakan infrastruktur terbaik biasanya menjadi pusat aktivitas regional. Ini memperbesar posisi tawar dalam negosiasi ekonomi dan investasi.
Nilai tambah terbesar Indonesia tentu saja adalah narasi lokalnya. Bagaimanapun, wisatawan olahraga tidak cuma mencari gelaran kompetisi, tetapi juga pengalaman budaya. Menggabungkan olahraga dengan identitas lokal akan menciptakan diferensiasi yang tidak dapat ditiru oleh negara lain.
Oleh karena itu, setiap ajang olahraga yang diadakan di negeri ini sebaiknya menampilkan pula cerita dan narasi daerah, seperti kuliner, kesenian, dan sejarahnya. Ketika wisatawan merasa terhubung secara emosional, mereka niscaya akan datang kembali.
Keterhubungan emosional semacam itu jauh lebih berharga daripada promosi besar-besaran. Di saat yang sama, produk-produk lokal kita dapat terhubung langsung dengan pasar internasional, tanpa melalui perantara. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa naik kelas dan menjadi bagian dari rantai nilai global.
Jika dikelola dengan strategi yang matang, wisata olahraga akan memberikan kontribusi jangka panjang pada PDB kita. Bukan cuma melalui belanja wisatawan, melainkan melalui investasi, lapangan kerja, dan reputasi global yang terus meningkat. Ini akan menempatkan Indonesia dalam posisi lebih kuat dalam peta ekonomi dunia.
Akhirnya, lewat wisata olahraga, Indonesia diharapkan bukan hanya tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga negara yang mampu menyelenggarakan pengalaman olahraga kelas dunia. Ketika reputasi ini terbentuk, arus wisata, investasi, dan kemitraan internasional akan datang dengan sendirinya.
*) Djoko Subinarto adalah kolumnis, alumnus Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran
