Sidoarjo, Jawa Timur (ANTARA) - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Putra Al Khoziny Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Raden Abdus Salam Mujib menyatakan gedung musala di wilayah ponpes tersebut telah selesai mengalami proses pengecoran pada siang hari.
"Proses pengecoran dari pagi, siang sudah selesa," kata Salam kepada awak media di lokasi kejadian, Senin.
Ia mengaku bahwa gedung yang runtuh tersebut rencananya akan dibangun setinggi tiga lantai, dan hari ini telah sampai pada tahap pengecoran atap di lantai tiga.
Salam menjelaskan bahwa selain untuk musala di lantai pertama, gedung tersebut akan digunakan menjadi balai pertemuan di lantai dua dan tiga.
Selain itu ia menyatakan bahwa proses renovasi gedung telah berjalan sejak beberapa bulan lalu dan bangunan yang ambruk kali ini merupakan tahapan akhir dari seluruh proses renovasi ponpes.
Salam menduga struktur bangunan tersebut tidak kuat menopang beban setelah pengecoran sehingga terjadi musibah tersebut.
Ia juga menyebut bahwa pada saat kejadian dirinya tidak sedang berada di lokasi.
"Saya tidak ikut mengimami shalat berjamaah Ashar tersebut," kata Salam.
Salam belum bisa memastikan berapa jumlah santri yang melaksanakan shalat berjamaah tersebut, namun ia menjelaskan bahwa para santri sebagian mengikuti shalat berjamaah sementara santri lain ada yang beristirahat di gedung asrama terpisah.
Ia meminta seluruh pihak terutama keluarga korban untuk bersabar menunggu proses evakuasi selesai sembari mendoakan para korban agar diberi keselamatan.
Dalam pantauan ANTARA, hingga pukul 19.00, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengerahkan dua ekskavator guna membantu proses evakuasi santri yang terjebak dalam bangunan musala yang ambruk.
Dari pantauan ANTARA hingga pukul 17.55 para petugas dari BPBD, Badan SAR Nasional (BASARNAS), kepolisian, hingga TNI beserta warga masih berusaha melakukan evakuasi.
Bangunan musala tersebut ambruk dan menimpa para santri yang sedang shalat Ashar berjamaah atau sekitar pukul 14.40 WIB.
Menurut pengakuan salah satu santri kelas tujuh Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al Khoziny bernama Wahid, bangunan musala tersebut sempat bergoyang sebelum ambruk.
"Ketika masuk rakaat kedua bagian ujung musala ambruk, lalu merembet ke bagian lain gedung," kata Wahid kepada ANTARA, di Sidoarjo, Senin.
Ia mengaku berhasil menyelamatkan diri dan mengajak santri lain untuk segera mengevakuasi diri.
Dari pengakuannya, para santri yang sedang melaksanakan shalat berjamaah tersebut berjumlah lebih dari 100 orang santri.
Selain itu Wahid menyatakan bahwa bangunan musala tersebut mengalami renovasi untuk membangun ruang di lantai tiga.
Hingga kini, dari pantauan ANTARA di lapangan puluhan ambulans masih berjaga di sekitar lokasi kejadian. Sebelumnya, sejak sore hari belasan ambulans telah membawa santri yang terluka menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo.
Hingga berita ini ditulis belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban maupun penyebab kejadian tersebut.
