Surabaya - Tokoh pers Trias Kuncahyo menegaskan bahwa Indonesia bisa maju karena pemuda, tapi Indonesia juga bisa tenggelam karena pemuda yang suka segala sesuatu yang serba instan. "Kalau serba instan itu berarti menghalalkan segara cara, sehingga pemuda bisa saja memperoleh gelar dengan cara menjiplak atau menjadi pemimpin muda dengan cara korupsi, sehingga Indonesia akan tenggelam," katanya di Surabaya, Selasa. Dalam orasi ilmiah pada Gebyar Fikom 2012 di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Wapimred Harian Kompas itu menegaskan perlunya kaum muda memiliki "habitus" keutamaan. "Zaman itu selalu bergerak, karena itu pemuda itu memiliki zaman yang selalu berbeda, namun kaum muda tetap boleh bergerak sesuai zamannya tanpa meninggalkan 'habitus keutamaan' kaum muda yang ada dari zaman ke zaman," katanya. Menurut dia, nasionalisme itu bukan hal yang kuno atau ketinggalan zaman, karena segala sesuatu di dunia itu hakikatnya tidak ada yang baru, kecuali sesuatu yang baru adalah cara pandang, tekad, niat, dan semangat. "Karena itu, 'habitus keutamaan' itu harus tetap ada dari zaman ke zaman, keberanian, toleransi, rela berjuang, persahabatan, pengendalian diri, dan kemuliaan lainnya harus tetap ada pada pemuda di zaman apapun," katanya. Dengan "habitus keutamaan" itu, maka pemuda sekarang boleh saja berkembang sesuai zamannya, tapi pemuda sekarang harus tetap menjaga jarak dari "sikap edan" untuk menjaga harga diri bangsa dan demi kemajuan bersama. "Sikap mulia atau habitus keutamaan yang harus tetap ada itu antara lain juga nasionalisme atau kecintaan tertinggi terhadap bangsa, meski pengungkapan rasa cinta itu bisa berbeda, sebab tafsir nasionalisme pemuda dan seniman juga beda," katanya. Ia mencontohkan tafsir nasionalisme musikus Gesang dalam lagu "Jembatan Merah" yang digubah pada tahun 1943 dengan menggambarkan kecintaan perempuan yang merelakan pemuda idamannya berangkat berjuang. Atau, tafsir nasionalisme ala Gombloh yang menggambarkan nasionalisme dalam lagu "Kebyar-Kebyar" dengan kata-kata seperti merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatku... dan seterusnya. Dalam kesempatan itu, Dekan Fikom UKWMS Yulia Nugraheni S.Sos MSi menjelaskan orasi ilmiah hanya merupakan salah satu dari serangkaian acara Gebyar Fikom 2012 yang dihelat untuk memperingati dua tahun Fikom UKWMS. "Acara lainnya, kami menjalin kerja sama dengan organisasi profesi yakni Aspikom (Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi) terkait kurikulum, lalu workshop media internal, kuliah tamu sinematografi, Call for oster Presentation, dan sebagainya," katanya. (*)
Berita Terkait
Tokoh pers Atmakusumah Astraatmadja tutup usia
2 Januari 2025 14:21
Eri Cahyadi raih penghargaan Tokoh Peduli Pers APFI 2023
13 Mei 2023 09:36
Mahfud MD: Indonesia kehilangan jubir nasionalisme
18 September 2022 19:36
Perjuangan tokoh pers lawan kolonialisme ditampilkan dalam Museum Sumpah Pemuda
23 Oktober 2021 07:12
Dies natalis ke-56, mahasiswa Stikosa-AWS ziarah ke makam tokoh pers Abdul Aziz
11 November 2020 17:58
Tokoh Pers Dhimam Abror komentari debat perdana Pilkada Surabaya
5 November 2020 15:04
Jakob Oetama tidak pernah tinggalkan identitas wartawan
9 September 2020 17:16
Peringatan HPN PWI Malang Dipusatkan di Masjid
9 Februari 2018 19:40
