Surabaya (ANTARA) - Ketua Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Surabaya Raya Suko Widodo menyatakan kesiapan penuh Kota Surabaya, Jawa Timur sebagai tuan rumah Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2025.
Suko dalam keterangan diterima di Surabaya, Minggu menegaskan Surabaya tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga ingin menjadikan momentum ini sebagai ajang mengangkat isu-isu daerah agar mendapat perhatian nasional.
"Isu-isu lokal perlu menjadi berita utama di ibu kota demi menguatkan local genius," ujarnya.
Selain membahas isu lokal, peserta juga akan diajak mengenal potensi pariwisata di berbagai kota di Jawa Timur.
Perhumas juga menampilkan tokoh-tokoh inspiratif, mulai Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Prof. Mahfud MD, hingga budayawan Cak Lontong.
Menurutnya, rangkaian kegiatan ini sejalan dengan semangat Perhumas yang terus menggaungkan tagar #IndonesiaBicaraBaik.
"Tagar ini bukan sekadar slogan, melainkan gerakan kolektif. Dengan narasi positif, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi bersama, Indonesia diyakini mampu memperkuat reputasi dan daya saing global," kata Suko.
Sebelumnya, Perhumas mengajak seluruh elemen bangsa membangun reputasi Indonesia melalui KHI 2025 yang resmi dimulai dengan kegiatan Kick Off di Jakarta, Sabtu (23/8).
"Indonesia memiliki modal luar biasa, kaya budaya, sejarah, inovasi, dan keberhasilan. Melalui Gerakan Indonesia Bicara Baik, kami ingin menggeser energi bersama: dari pesimis menjadi optimis, dari keluhan menjadi solusi," kata Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto di Jakarta.
Ia menegaskan reputasi bangsa tidak lahir begitu saja, melainkan dibangun dari narasi kolektif yang dihidupkan secara konsisten dalam komunikasi publik.
Perhumas, lanjutnya, tidak dapat berjalan sendiri sehingga diperlukan sinergi lintas sektor atau pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, praktisi/dunia usaha, komunitas, dan media.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdig), Fifi Aleyda Yahya, menyampaikan apresiasi atas peran strategis Perhumas.
Menurut dia, Gerakan Indonesia Bicara Baik bukan sekadar kampanye, melainkan ruang budaya komunikasi yang optimis dan berakar pada kearifan lokal.
