Surabaya (ANTARA) - Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menilai kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memangkas tarif impor untuk produk Indonesia dapat menjadi momentum strategis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara.
“Karena itu, pelaku usaha di daerah perlu didorong untuk meningkatkan kualitas produk dan berani melangkah ke pasar ekspor,” kata Lilik di Surabaya, Sabtu.
Menurut Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim tersebut, Amerika Serikat masih menjadi pasar ekspor yang potensial dan menguntungkan bagi produk-produk lokal. Namun, ia mengingatkan, kebijakan tersebut juga membawa tantangan serius karena di saat bersamaan terjadi pembebasan tarif serta hambatan nontarif bagi produk AS yang masuk ke Indonesia.
“Indonesia akan semakin terbuka sebagai pasar bebas. Ini berpotensi dibanjiri produk impor dengan harga lebih murah, yang bisa memukul sektor industri lokal,” ujarnya.
Lilik menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendampingi UMKM agar dapat bersaing di pasar global. Dukungan teknis, kemudahan akses pembiayaan, serta pendampingan usaha dinilai perlu dihadirkan secara konkret.
Ia juga menggarisbawahi perlunya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam membuka jalur ekspor seluas-luasnya bagi produk lokal.
Di sisi lain, Lilik menyarankan sejumlah langkah strategis untuk melindungi pasar dalam negeri. Antara lain, memperkuat pelatihan dan pemberdayaan ekspor bagi UMKM, serta mendorong kampanye besar-besaran untuk mencintai produk dalam negeri.
“Kesadaran kolektif untuk membeli produk lokal menjadi tameng pertama menjaga daya saing UMKM di pasar domestik,” ujarnya.
Selain itu, Lilik mengusulkan kebijakan proteksi selektif bagi sektor-sektor yang dinilai rentan, seperti industri tekstil dan makanan-minuman.
Skema proteksi tersebut dapat berupa kewajiban instansi pemerintah membeli seragam dari konveksi lokal, subsidi bahan baku, hingga insentif pajak daerah untuk pelaku industri rumahan.
Di sektor pangan, ia juga menilai perlunya regulasi seperti zonasi produk di pasar tradisional agar proporsi produk lokal tetap dominan.
Lilik menyinggung pentingnya rencana pembentukan BUMD pangan di Jawa Timur yang diharapkan dapat menyerap hasil petani lokal serta menjaga stabilitas harga di pasar.
Lilik pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak sekadar euforia melihat peluang ekspor, tetapi juga menyiapkan strategi perlindungan terhadap pasar domestik.
“Semangat cinta produk Indonesia harus terus kita hidupkan sebagai bagian dari kedaulatan ekonomi bangsa,” tuturnya.
