Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Areal tanam tembakau varietas Paiton VO di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada tahun 2025 diprediksi mencapai 11.524,70 hektare dengan asumsi produktivitas 1,2 ton per hektare, maka total produksi diperkirakan mencapai 13.829 ton.
"Target itu penting untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan pasar. Kami berharap gudang-gudang tembakau memberikan kepastian pembelian agar tidak terjadi kelebihan produksi seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Pelaksana harian Kepala Bidang Sarana Penyuluhan dan Pengendalian Pertanian Dinas Pertanian Probolinggp Evi Rosella dalam keterangan tertulis yang diterima di Probolinggo, Jumat.
Menurut dia, pada musim tanam 2024 terdapat penurunan realisasi areal tanam sebesar hampir 20 persen dibandingkan rencana awal. Dari target 11.433 hektare, yang terealisasi hanya 9.172 hektare.
"Menariknya, total produksi justru melebihi ekspektasi hingga 14.737 ton yang menunjukkan adanya peningkatan produktivitas petani," tuturnya.
Ia mengatakan, pihaknya sudah memberikan sosialisasi rencana tanam tembakau tahun 2025 kepada petani tembakau dan Asosiasi Petani Tembakau Kabupaten Probolinggo, bahkan sosialisasi itu juga dihadiri Tim TP2D, perwakilan gudang tembakau, Koordinator BPP, dan penyuluh pertanian.
Dinas Pertanian Probolinggo menekankan pentingnya sinkronisasi data antara petani dan gudang, sehingga pabrikan atau gudang diharapkan segera menyetorkan data rencana pembelian agar pemerintah bisa melakukan pemetaan kebutuhan secara akurat.
"Rencana tanam tahun ini juga mempertimbangkan faktor cuaca. Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Probolinggo diprediksi mengalami kemarau basah pada pertengahan Juni," katanya.
Ia mengatakan kondisi itu cukup aman untuk memulai penanaman tembakau Paiton VO yang memang cocok tumbuh pada musim kering dengan kelembaban yang stabil.
Pihak Diperta Probolinggo berusaha menyamakan persepsi tentang kebutuhan tembakau dan rencana areal musim tanam tahun 2025 serta mengantisipasi permasalahan-permasalahan antara petani sebagai produsen/penyedia bahan baku dengan pihak gudang/pabrikan sebagai konsumen.
“Kami berharap menjadi momen untuk mengevaluasi konsep tata niaga tembakau yang lebih berkeadilan. Petani diharapkan bisa memperoleh harga yang layak, sementara pabrikan mendapatkan kualitas bahan baku yang sesuai standar," ujarnya.
Pemkab Probolinggo menegaskan komitmennya dalam menjaga keseimbangan antara supply dan demand karena langkah itu bukan hanya menjaga keberlangsungan usaha petani tembakau, tetapi juga mendukung pertumbuhan sektor agribisnis lokal secara keseluruhan.
