Sidoarjo, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda di Sidoarjo, Jawa Timur, meminta masyarakat di wilayah Jawa Timur untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem pada periode 21 Januari hingga 30 Januari 2026.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan dikonfirmasi ANTARA di Sidoarjo, Rabu, menyatakan bahwa saat ini seluruh wilayah di Jawa Timur memasuki musim hujan, dan sejumlah wilayah bahkan memasuki puncak musim hujan yang berpotensi besar menimbulkan bencana hidrometeorologi.
"Kami imbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap bencana hidrometeorologi akibat hujan lebat yang berpotensi menimbulkan banjir, tanah longsor, serta angin kencang, puting beliung, maupun hujan es, di seluruh 29 kabupaten dan sembilan kota di Jawa Timur" kata Taufiq.
Taufiq menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan BMKG Juanda, potensi cuaca ekstrem tersebut terjadi akibat dampak aktifnya monsun Asia, pola pertemuan angin (konvergensi), sekaligus gangguan atmosfer berupa gelombang Rossby yang saat ini melintasi wilayah Jawa Timur.
BMKG turut memprakirakan adanya gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang berpotensi melewati wilayah Jawa Timur, serta suhu muka laut perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan, dan kondisi atmosfer lokal yang tidak stabil.
Taufiq menjelaskan bahwa hal-hal tersebut turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang.
"Kami mengimbau masyarakat Jawa Timur untuk selalu memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca Weather Observation and Forecast Integrated atau WOFI yang bisa diakses melalui kanal resmi BMKG Juanda," kata Taufiq.
Menurutnya, dalam prakiraan cuaca tersebut masyarakat dapat memanfaatkan informasi cuaca secara waktu nyata atau real time sekaligus mendapatkan informasi peringatan dini tiap dua sampai tiga jam, hingga tiga hari ke depan.
