Oleh Abdul Malik Gresik- Keris menjadi salah satu pusaka Indonesia yang kini telah diakui dunia, dan telah tercatat oleh Organisasi bidang pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa(UNESCO) sebagai pusaka asli Indonesia kedua setelah wayang. Namun, pengakuan dunia terhadap pusaka yang konon dulunya menjadi barang mistik pejabat kerajaan di Tanah Air itu, seharusnya tidak berhenti pada pengakuan semata, perlu langkah kongkret dalam melestarikannya. Hal itulah yang menjadi motivasi sekitar 20 seniman dan budayawan yang berkumpul di GOR Tri Dharma, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Minggu (8/7), untuk membahas pelestarian pusaka yang juga pernah dimiliki presiden pertama Indonesia, Soekarno. "Setelah UNESCO mengakui keris sebagai pusaka Indonesia, kita jangan berhenti, sebab kalau tidak ada upaya melestarikan, maka khawatir ada upaya penghancuran terhadap pusaka itu," ucap Wakil Ketua Pusat Kebudayaan Lembaga Jawi (PKLJ) Indonesia, Handoko Kartika. Handoko mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan rekan-rekannya dalam melestarikan keris adalah menghilangkan unsur mistik, dan mengubah cara pandang masyarakat agar keris dipandang sebagai suatu seni yang tidak perlu ditakuti. Diakuinya, sampai saat ini keris masih menjadi barang khusus yang hanya dimiliki orang-orang tertentu seperti pejabat negara, sehingga bila ada anak muda yang menyentuh atau memakainya, maka hukumnya tidak dipebolehkan. "Apalagi jika ada anak kecil yang memegang keris orang tuanya, maka orang tua itu akan bilang 'kualat' dan bisa menimbulkan celaka. Serta memberikan dogmatisasi keris sebagai barang mistik," ujarnya. Dogmatisasi atau pemaksaan pemikiran itu bila terus diberikan, dikhawatirkan akan berbenturan dengan ajaran agama, sehingga kedepan akan muncul upaya penghancuran terhadap keris, dengan alasan agama yakni syirik. Handoko tidak mau bila hal itu terjadi di masa depan, sehingga perlu adanya perubahan pola pikir para orang tua, sehingga pusaka keris bisa bertahan menjadi seni bangsa Indonesia, bukan lagi barang mistik yang bertentangan dengan agama. "Pola pikir adanya unsur mistik harus dihilangkan dari keris, meski saya mengakui hal itu masih menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa orang. Namun, alangkah baiknya bila unsur seni pada pembuatan keris ditonjolkan, sehingga pusaka Indonesia tetap terpelihara, dan tidak bertentangan dengan apa pun, termasuk agama," tukasnya. Handoko bersama-sama rekannya mengaku sering menggelar pameran keris di berbagai pelosok daerah di Indonesia, termasuk pameran yang digelar di GOR Tri Dharma, Gresik mulai Sabtu (7/8) hingga Senin (9/7), tujuannya untuk mengenalkan keris sebagai benda seni. "Pameran dan penjualan keris kita gelar sebagai ajang sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenalkan seni Indonesia yang telah diakui dunia, dan pameran ini dibuka untuk umum, termasuk anak-anak dengan bebas memegang keris apapun," katanya. Dalam pameran itu pula, Handoko dan 20 rekannya mengajak masyarakat yang datang ke pameran, untuk berbisnis bersama di bidang perkerisan, sehingga aspek mistik yang ada pada keris akan perlahan-lahan diubah menjadi aspek ekonomi. "Ukiran dan bentuk keris memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga semakin bagus kualitas ukiran dan bentuknya, maka semakin mahal. Dan dengan adanya perubahan cara pandang ini, keris akan bertahan lama sebagai pusaka bangsa dan tidak bertentangan dengan agama," paparnya. Sementara salah satu pengunjung pameran, Ratna Mestikasari Putri (25) mengakui, seni yang ada pada keris nilainya sangat tinggi, sebab bentuk seni yang tercipta dalam pembuatan keris menunjukkan identitas suatu daerah dan mahalnya bahan dasar pembuatan keris. Ratna yang baru setahun menyukai dan ingin terjun total dalam seni keris itu mengaku sangat tertarik dengan keris karena sejak kecil tidak pernah mengenal keris akibat dilarang oleh neneknya. "Profesi saya sekarang musisi, namun setahun terakhir saya suka melihat-lihat keris dan tertarik untuk memiliknya, dan saya terjun ke dunia keris adalah untuk melestarikan budaya Indonesia," ucap lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu. Menurut dia, keris yang telah diakui sebagai warisan dunia asal Indonesia, mampu membangun nilai nasionalisme, sehingga pemuda akan semakin percaya diri dengan bangsanya. "Kalau negara Jepang bangga dengan samurainya dan sudah terkenal mendunia, mengapa Indonesia tidak bangga dengan kerisnya, yang juga memiliki nilai sejarah tinggi perdaban bangsa," ujarnya. Peradaban tertinggi Pengamat perkerisan Indonesia yang sedang mengambil pendidikan S3 (doktor) bidang perkerisan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Slamet Supriyanto mengatakan, keris merupakan peninggalan leluhur bangsa yang memiliki nilai peradaban tinggi, disamping warisan budaya lainnya yang ada. Ia menjelaskan, sebelum adanya bangsa Amerika yang mampu membuat pesawat dari bahan besi terbaik, leluhur bangsa Indonesia telah mampu membuat bahan terbaik keris dari unsur titanium dan nikel. Selain itu, ditemukan pula bahan pembuatan keris yang menggabungkan unsur meteor yang pernah jatuh ke Indonesia dengan bahan lain, sehingga menghasilkan keris terbaik dan awet hingga ratusan tahun. "Dalam setiap perjumpaan dengan orang asing, saya selalu katakan jika saya masih lebih bangga terhadap leluhur Indonesia yang mampu membuat keris dari bahan terbaik dan awet hingga sekarang," ungkap Slamet yang juga hadir dalam pameran itu. Ia menjelaskan, penggabungan unsur besi terbaik dalam pembuatan serta ukiran keris, menunjukkan jika arsitek Indonesia dahulu sudah sangat canggih, sebab sudah mengerti unsur besi terbaik. Slamet yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Tosan Aji Kolomunyeng Gresik itu menjelaskan, setiap bentuk keris yang dibuat leluhur bangsa, menunjukkan era atau zaman di mana keris itu dibuat. "Setiap era atau dekade memiliki ciri-ciri tersendriri, seperti keris yang dibuat di era Sultan Agung dan Senopati dengan ciri naganya," tutur Slamet yang sejak muda menyukai seni keris. Ia berharap, upaya pelestarian seni keris yang dilakukan oleh rekan-rekannya bisa dilakukan untuk bidang seni lain seperti Wayang dan Reog Ponorogo. Sehingga generasi bangsa Indonesia mendatang bisa berbangga dengan peninggalan leluhur. Sebab, pelestarian terhadap seni dan budaya bangsa adalah bagian dari penguatan nilai nasionalisme bangsa, agar tidak muncul klaim oleh negara lain terhadap seni leluhur, sehingga tetap diakui sebagai warisan leluhur. Dalam pameran itu, ditampilkan sebanyak seribu keris dari berbagai zaman, seperti keris tertua dari abad IX atau sekitar tahun 800-an, dan diikuti seniman dan budayawan dari berbagai daerah seperti dari Yogyakarta, Solo, Malang, Ponorogo, Surabaya, Bali serta Madura.(*)
Berita Terkait
Sertijab Kepala LKBN ANTARA Biro Jawa Timur
6 Januari 2026 16:22
KUHP beri batasan jelas antara kritik dan penghinaan
3 Januari 2026 11:18
Antara Natal, tahun baru, dan kebersamaan di saat sulit
25 Desember 2025 15:14
Dewas ANTARA harap kinerja Biro Jatim terus tumbuh
17 Desember 2025 19:30
ANTARA terima penghargaan peran penyebaran informasi Kumham Imipas
17 Desember 2025 13:59
Konjen RRT-ANTARA Jatim masifkan penyebaran informasi positif dua negara
16 Desember 2025 19:45
DPR nilai pemberitaan ANTARA masih menjadi tolok ukur
16 Desember 2025 19:02
Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim: ANTARA miliki karakter yang berbeda
16 Desember 2025 18:16
