Oleh Abdul Hakim Surabaya - Hujan gerimis disertai kabut tipis di siang itu, tidak menyurutkan niat para wisatawan lokal maupun asing untuk terus menaiki tangga demi tangga menuju titik tertinggi "Great Wall" atau Tembok Besar di China. Ada sebuah kebanggaan tersendiri bagi wisatawan yang bisa naik ke "Great Wall" hingga titik tertinggi. Hal ini dikarenakan tidak semua wisatawan bisa naik ke titik tertingi karena kondisi tangga yang curam dan licin membuat mereka berpikir ulang. "Tangganya licin dan curam, saya tadi sempat tidak jadi naik. Setelah saya pikir-pikir, sayang, sudah jauh-jauh datang ke sini, masak gak naik ke atas. Ambil foto lebih bagus di atas," kata salah satu wisatawan yang ikut rombongan Pemkot Surabaya, Fanani, saat mengunjungi "Great Wall" beberapa hari lalu. Tingkat kecuraman tangga di "Great Wall" itu bervariasi ada yang datar, curam, dan sangat curam. "Sampai di benteng pertama, nafas saya sudah naik turun. Tapi saya tetap semangat," kata wisatawan lainnya yang sama-sama satu rombongan dengan Pemkot Surabaya, Wahyu. Wahyu tidak bisa membayangkan bagaimana para pekerja-pekerja yang memasang bata-bata temboknya di tempat terjal dan curam seperti ini. "Saya tidak habis pikir. Ini luar biasa," ucapnya. Wahyu mengaku bangga bisa melihat keindahan Tembok Besar China yang dibangun selama 3 dinasti yakni Dinasti Han, Dinasti Ming, dan Dinasti Qin. Dinasti Ming berkontribusi sangat besar dalam pembangunan Great Wall ini. Tembok ini merupakan kumpulan tembok-tembok pendek yang mengikuti bentuk pegunungan China Utara. Pada 18 April 2009, setelah investigasi secara akurat oleh pemerintah Republik Rakyat China (RRC), diumumkan bahwa tembok raksasa yang dikonstruksikan pada periode Dinasti Ming panjangnya adalah 8.851 km. Sebetulnya, pintu masuknya "Great Wall" itu ada banyak, dua di antaranya yang umum dikunjungi orang adalah Badaling dan Mutianyu. Akses ke Badaling itu lebih mudah dibanding ke Mutianyu, sehingga lebih ramai pengunjung. Bahkan Pemerintah Kota Beijing akan membuka dua akses baru di Tembok Besar China untuk memenuhi meningkatnya jumlah wisatawan yang datang menyaksikan salah satu lokasi wisata paling populer di dunia itu. Dua akses tersebut berada di Huanghuacheng dan Hefangkou. Namun, hingga kini belum ada kepastian dari Pemkot Beijing kapan dua akses baru itu akan dibuka. Pemandu wisata Yuli, mengatakan dibalik seni yang begitu indah, tembok China memiliki nilai sejarah yang luar biasa, dan tembok ini merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Pada zaman masa kerajaan China, tembok ini digunakan sebagai benteng pertahanan militer kuno yang menghabiskan waktu atau masa pembangunan yang sangat lama dengan ukuran paling besar di dunia. "Tembok China terlihat megah melintang mulai dari bagian barat sampai ke bagian timur China," ujarnya. Di tubuh tembok besar dibangun dengan batu besar berbaur dengan tanah dan batu pecahan, dengan ketingian tembok mencapai 10 meter dan lebar 5 meter, yang diperkirakan cukup untuk 4 ekor kuda yang ditunggangi pasukan perang berpatroli berdampingan. Dengan adanya benteng tersebut, tentara sangat mudah untuk melakukan manuver serta mengangkut bahan pangan dan senjata. Pada sisi dalam tembok telah dilengkapi dengan pintu dan tangga untuk naik turun. Tembok China dibangun dengan benteng atau menara api pada setiap bagian. Pada masing-masing menara api itu. "Wisatawan dapat menyaksikan pemandangan alam yang begitu indah. Sementara itu, liku-liku anak tembok menjadikannya bentuk yang unik yang dapat kita saksikan," katanya. Pada masanya, lanjut dia, di dalam menara api tersimpan senjata dan bahan pangan. Seluruh menara api akan dinyalakan bila musuh datang, sehingga kabar tersebut langsung disampaikan ke seluruh negeri dalam waktu yang sangat singkat. Selain tempat penyimpanan berbagai keperluan, benteng dan menara api yang terdapat ditembok China juga difungsikan sebagai tempat istirahat bagi prajurit pada waktu damai, sekaligus kubu pertahanan untuk menangkis serangan musuh pada waktu berperang. Fungsi tembok China yang dulunya sebagai kubu pertahanan militer kini sudah tidak terlihat lagi, dan yang dapat dilihat adalah keindahan arsitekturnya yang tetap masih melekat. Keindahan tembok tersebut tercermin pada kemegahannya, kekuatan, dan kebesaran serta tata letaknya diatas gunung. Kini tembok china telah menjadi tempat wisata dunia, dan merupakan hasil jerih payah yang dilengkapi dengan sejuta sejarah nenek moyang rakyat China pada zaman kuno. "Tembok ini merupakan salah satu ikon paling berarti bagi Negeri Tirai Bambu," katanya. Tembok besar China sebenarnya bukan rangkaian tembok utuh. Awalnya, ini merupakan tujuh tembok yang dibangun tujuh kerajaan. Karena kemegahan tembok Cina, beredar rumor, bahwa tembok ini sampai kelihatan dari bulan. Tapi hal itu kemudian dibantah oleh NASA yang berpandangan banyak obyek buatan manusia berskala besar, seperti jalan raya, bandar udara, bangunan dan kapal, dapat dilihat dengan mata telanjang, seperti Tembok Besar China, tapi hanya dari orbit rendah (sekitar 200 mil di atas permukaan laut). Lebar Tembok China berkisar lima sampai sepuluh meter tetapi, ketika terjadi badai debu, tembok itu menjadi lebih terlihat di jarak dekat, namun struktur buatan manusia itu sama sekali tidak terlihat dengan mata telanjang di atas ketinggian seribu mil, dan tentu saja dari bulan, yang jauhnya sekitar 240.000 mil, tanpa bantuan alat bantu optik. Fakta ini telah dikonfirmasi oleh sejumlah astronot NASA yang telah terbang ke angkasa, tanpa keraguan sedikitpun. Gembok Cinta Kemegahan tembok besar China memang sudah melegenda sejak ratusan tahun silam. Karenanya, tidak heran bila banyak wisatawan penasaran dengan tembok yang dibangun pada tahun 221 sebelum masehi itu. Di samping terkenal karena kemegahannya, ternyata menyimpan keunikan lain, yakni tradisi gembok cinta. Tradisi ini dimulai pada 6 November 1999 ketika pengelola tembok raksasa menjulurkan sebuah rantai di dinding tembok besar. Adanya rantai tersebut tentu menarik perhatian, dan lambat laun memulai kebiasaan baru bagi pengunjung "Great Wall". Pemandu wisata, Yuli, mengatakan seperti yang dilakukan kebanyakan para pengunjung yakni menaruh gembok yang sudah berukiran nama mereka dan pasangan pada rantai. "Mitosnya, bagi siapa saja pasangan yang mengunci sebuah gembok yang berukir nama mereka berdua di tembok raksasa, maka hubungan mereka akan selalu langgeng," katanya. Konon, dengan mengunci gembok mereka di tembok raksasa, maka cinta mereka bakal direstui karena hal itu disaksikan tidak hanya oleh tembok raksasa, tapi juga oleh alam dan dunia. Karena itulah tidak heran bila kini sudah ada ratusan atau bahkan ribuan gembok yang terkunci di rantai di beberapa lokasi tembok raksasa. Uniknya lagi, yang mempercayai mitos ini ternyata bukanlah hanya penduduk dan turis lokal saja. Tetapi juga turis-turis dari mancanegara yang ternyata juga berharap peruntungan dari mitos ini. (*)
Berita Terkait
Sore ini, Derbi Indonesia antara Persib vs Persija digelar
11 Januari 2026 12:39
ANTARA dukung TVRI gelar tayangan Piala Dunia 2026
9 Januari 2026 16:40
Sertijab Kepala LKBN ANTARA Biro Jawa Timur
6 Januari 2026 16:22
KUHP beri batasan jelas antara kritik dan penghinaan
3 Januari 2026 11:18
Antara Natal, tahun baru, dan kebersamaan di saat sulit
25 Desember 2025 15:14
Dewas ANTARA harap kinerja Biro Jatim terus tumbuh
17 Desember 2025 19:30
ANTARA terima penghargaan peran penyebaran informasi Kumham Imipas
17 Desember 2025 13:59
Konjen RRT-ANTARA Jatim masifkan penyebaran informasi positif dua negara
16 Desember 2025 19:45
