Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar
Parawansa mengingatkan warga setempat untuk menjadi tuan rumah yang baik saat libur Lebaran guna menarik dan mengoptimalkan potensi ekonomi dari pemudik dan wisatawan yang berkunjung.
Seusai melaksanakan ibadah shalat Ied di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Senin, Khofifah
mengatakan bahwa berdasar data dari Kementerian Perhubungan, terdapat 14,2 juta jiwa yang melakukan perjalanan ke luar Jawa Timur.
"Sebanyak 16,8 juta jiwa tercatat memasuki Jawa Timur. Melalui tambahan 2,6 juta jiwa tersebut diharapkan masyarakat dapat memaksimalkan potensi ekonomi yang ada," kata
Khofifah menegaskan kepada para pengusaha baik skala kecil hingga menengah untuk tidak menaikkan harga barang dagangan demi memikat warga yang berkunjung ke Jatim, untuk terus memutar perekonomian setempat.
Ia menyatakan bahwa perputaran ekonomi di lapis bawah masyarakat dapat menguatkan ekonomi masyarakat, serta memperkuat pondasi ekonomi Jawa Timur.
"Jangan karena saat ini ada banyak wisatawan, harga-harga ikut mahal, mari kita memajsimalkan
potensi ekonomi di Jatim tersebut," kata Khofifah.
Dalam momen Idul Fitri 1.446 Hijriah ini Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak dan para Forum Komunikasi Daerah Jatim, serta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jatim melaksanakan shalat Id di Masjid Agung Nasional Al Akbar Surabaya pukul 06.00 WIB.
Dari pantauan ANTARA tak kurang dari puluhan ribu warga turut melaksanakan shalat Id di masjid terbesar di Jawa Timur tersebut. Warga yang antusias juga berbondong-bondong bersalaman dan berfoto bersama Khofifah dan Emil.
Shalat Id 1446 Hijriah di Masjid Al Akbar kali ini dipimpin oleh Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya KH Abdul Hamid Abdullah, dan yang bertindak sebagai khatib khutbah shalat Ied adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jatim Sruji Bahtiar.
Khutbah Idul Fitri
Dalam Sholat Idul Fitri 1446 H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), yang juga diikuti Gubernur Jawa Timur Hj Khofifah Indar Parawansa itu, Khotib Sholat Idul Fitri MAS yang juga Kepala Kemenag Jatim DR Akhmad Sruji Bachtiar MPdI menegaskan bahwa Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan atau momen untuk saling bermaaf-maafan, namun komitmen untuk tetap menuhankan Allah SWT pasca-Ramadhan.
“Idul Fitri adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi diri, meresapi makna puasa yang baru saja kita lalui, dan yang terpenting lagi, menuhankan Allah SWT dengan totalitas,” katanya dalam khutbah Sholat Idul Fitri di hadapan 45 ribu jamaah Masjid Al-Akbar Surabaya.
Dalam khutbah bertema "Kembali Menuhankan Allah" itu, ia menjelaskan umat Islam patut berbangga diri mendapatkan sanjungan dan penghormatan dari Allah SWT dengan sebutan “wahai orang yang beriman” yang disandarkan kepada orang yang berpuasa (QS al Baqarah: 183). Hal ini menandakan bahwa hanya makhluk Allah SWT yang beriman yang bisa menjalankan perintah puasa Ramadhan.
“Apa esensi dari menuhankan Allah SWT? Sederhananya, kita diingatkan untuk mengembalikan hati, pikiran, dan seluruh amal perbuatan kita hanya untuk Allah SWT semata. Selama ini, kita mungkin telah menjalani hidup dengan berbagai macam aktivitas, pekerjaan, dan beberapa aktivitas duniawi lainnya yang kadang membuat kita lupa bahwa Allah SWT adalah pusat kehidupan kita. Semuanya hanya diniati duniawi,” katanya.
Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 21-22, Allah juga mengingatkan “Wahai umat manusia, sembahlah Tuhan yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia dengan air hujan itu mengeluarkan berbagai buah yang menjadi rezeki bagi kalian. Maka, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, padahal kalian mengetahui.”
Menurut dia, ayat ini mengingatkan bahwa Allah SWT itulah satu-satunya Tuhan yang layak disembah, yang menciptakan alam semesta dan segala isinya untuk kepentingan umat manusia, namun sering kali dalam kehidupan sehari-hari lupa bahwa seluruh aktivitas itu, baik bekerja, belajar, maupun berinteraksi lain seharusnya dilakukan dalam rangka mengagungkan dan menuhankanNya.
“Perintah untuk menunaikan zakat adalah bukti nyata bahwa Allah SWT melarang umat manusia untuk menghamba kepada harta benda. Dibalik harta yang kita miliki, terdapat hak orang lain yang harus kita berikan. Hal ini juga menggambarkan nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan yang menjadi ciri khas seorang manusia (insan) sebagai makhluk sosial,” katanya.
Oleh karena itu, Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kesempatan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Kita mengisi setiap harinya dengan ibadah, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan tentu saja, berpuasa. Semua ibadah dan juga segala ikhtiar duniawi itu adalah bentuk usaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya, menguatkan ikatan kita dengan Allah SWT.
Walhasil, ia menilai Idul Fitri adalah titik balik untuk menilai komitmen terhadap Allah SWT. Setelah sebulan penuh, kita berusaha untuk lebih taat dan ikhlas dalam beribadah, sekarang saatnya mempertahankan dan melanjutkannya dalam kehidupan pasca Ramadhan. Muslim tidak boleh membiarkan kekuatan spiritual yang dibangun selama di bulan Ramadhan ini menghilang begitu saja.
Gubernur: Jatim harus jadi tuan rumah yang baik saat libur Lebaran
Senin, 31 Maret 2025 8:03 WIB

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa terlihat melalui layar siaran, saat memberikan sambutan sebelum melaksanakan ibadah shalat Ied di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Senin (31/3/2025). (ANTARA/Fahmi Alfian)
Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan atau momen untuk saling bermaaf-maafan, namun komitmen untuk tetap menuhankan Allah SWT pasca-Ramadhan