Lumajang - Jalur pendakian ke Gunung Lamongan dengan ketinggian 1.668 meter dari permukaan laut yang berada di Kabupaten Lumajang ditutup sementara karena status gunung setempat meningkat dari normal menjadi waspada. Sejumlah aktivis LSM Laskar Hijau menempelkan pengumuman yang berisi larangan mendaki ke puncak Gunung Lamongan di sekitar pos istirahat yang biasa digunakan pendaki untuk beristirahat sejenak, sebelum mendaki ke puncak. "Kami sudah menempelkan imbauan, agar pendaki tidak naik ke puncak Gunung Lamongan karena status gunung api tersebut naik menjadi waspada," kata Koordinator Laskar Hijau A'ak Abdullah Al-Kudus, Minggu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Gunung Lamongan naik dari Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) sejak 9 Maret 2012 pukul 13.00 WIB karena aktivitas gunung api tersebut meningkat. "Masyarakat di sekitar lereng Gunung Lemongan dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif karena berbahaya," tuturnya. Aktivis lingkungan itu mengimbau para pendaki tidak nekat naik ke puncak Gunung Lamongan yang memiliki ketinggian 1.668 mpdl itu dan mematuhi imbauan yang direkomendasikan PVMBG demi keselamatan para pendaki. "Biasanya banyak pecinta alam dari Lumjang maupun luar kota yang melakukan pendakian pada hari Minggu, sehingga kami juga membuat selebaran tentang larangan pendakian ke Gunung Lamongan," paparnya. Sesuai dengan rekomendasi PVMBG, lanjut dia, warga di sekitar Gunung Lamongan atau pendaki tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak dalam radius 1 km dari kawah aktif karena dikhawatirkan ada erupsi berupa aliran lava atau lontaran batu pijar. "Potensi bahaya erupsi Gunung Lamongan pada kawasan Rawan Bencana II adalah radius 3,5 kilometer dari puncak, dengan ancaman aliran lava, lontaran batu pijar, hujan abu lebat dan aliran lahar," katanya menjelaskan. Sedangkan potensi bahaya erupsi Gunung Lamongan pada Kawasan Rawan Bencana I adalah radius 7 kilometer dari puncak, dengan ancaman aliran lahar dan kemungkinan dapat terkena perluasan aliran lava. Gunung Lamongan terakhir meletus tahun 1898 dan sampai dengan saat ini belum terjadi lagi letusan vulkanik. Gunung api yang berada di Kecamatan Klakah itu memiliki pusat-pusat erupsi parasitik yang paling banyak di antara gunung api aktif yang ada di Indonesia. Sementara Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lumajang, Hariyanto, mengaku sudah mendapat informasi terkait dengan peningkatan status Gunung Lamongan dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Gunung Lamongan di Gunung Meja, Desa Tamansari, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. "Peningkatan status itu akan disosialisasikan kepada masyarakat di lereng Gunung Lamongan, namun saya imbau warga tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu-isu yang menyesatkan tentang aktivitas gunung api itu," tuturnya.(*)
Berita Terkait
Bangunan lapak pasar di Lumajang roboh, sebabkan tiga orang terluka
20 Januari 2026 21:15
Mount Semeru erupts six times on Monday, ash columns reach 1 km
19 Januari 2026 16:57
Pendapatan pajak wisata Tumpak Sewu di Lumajang naik 50 persen
15 Januari 2026 16:20
Mount Semeru erupts sending pyroclastic flow 5 km from peak
12 Januari 2026 12:36
BPBD Lumajang minta warga waspadai letusan sekunder Semeru
11 Januari 2026 22:45
Gunung Semeru alami 30 kali gempa letusan dan satu kali getaran banjir
11 Januari 2026 19:52
