Malang - Prestasi cabang olahraga bulu tangkis yang dalam beberapa tahun terakhir ini terus menurun di kancah internasional mengetuk hati Wali kota Malang, Jawa Timur, Peni Suparto untuk meraih kembali kejayaan Indonesia dalam cabang olahraga "teplok bulu" tersebut. Berbagai upaya dilakukan Peni Suparto untuk mengembalikan bulu tangkis sebagai cabang olahraga yang mampu mendominasi kekuatan dunia seperti era Rudy Hartono, Liem Swie King, Verawati Fajrin, Ivanna Lie maupun Susi Susanti dan Taufik Hidayat. Pembinaan mulai dari usia anak-anak (SD) hingga profesional pun dilakukan, bahkan fasilitas olahraga itu terus dibenahi untuk menghasilkan para pebulu tangkis andal, minimal mampu mengharumkan nama kota pendidikan itu di kancah regional Jatim dan nasional. "Kalau untuk skala internasional, kita memang masih belum mampu karena ini baru awal. Berbagai fasilitas yang menunjang prestasi bulu tangkis akan terus kita benahi, apalagi sekarang gedung bulu tangkis di Jalan Bunga Lely juga cukup represtatif, sehingga tidak ada alasan untuk tidak berprestasi skala nasional," tegasnya ketika membuka "Milo School Competition" yang dihadri pebulu tangkis nasional Taufik Hidayat belum lama ini. Sebenarnya, prestasi bulu tangkis Kota Malang tidak terlalu buruk di kancah regional Jatim. Hanya saja, ketika pembinaan yang terus dilakukan dan saatnya memetik buahnya, atlet banyak yang pindah dan memperkuat daerah lain dalam even regional, sehingga Kota Malang harus kehilangan atlet-atlet andalnya. Padahal, kata Peni, saat ini dirinya bersama pengurus PBSI dan semua pihak yang peduli terhadap olahraga bulu tangkis sedang gencar-gencarnya mengupayakan Kota Malang sebagai barometer bulutangkis, dan menjadikan olahraga tersebut sebagai unggulan untuk meraih prestasi serta mengharumkan Kota Malang di kancah regional, nasional, bahkan internasional. Oleh karena itu, tegasnya, ketika ada kesempatan menjadi tuan rumah untuk menggelar berbagai kompetisi, dirinya tidak akan pernah menolak, bahkan kompetisi tingkat SD maupun SMP juga akan dilaksanakan dengan baik, sebab berbagai kompetisi tersebut diharapkan mampu melahirkan bibit-bibit unggul atau pebulu tangkis andal yang mampu mengantarkan Kota Malang sebagai barometer bulutangkis, disamping sepak bola. Sementara Kahumas Pemkot malang Ir Budi Herwanto mengusulkan adanya aturan ketat terkait kepindahan seorang atlet dari daerah satu ke daerah lain atau dari provinsi satu ke provinsi lain. "Kalau saya amati, selama ini perpindahan, bahkan 'pencaplokan' seorang atlet begitu mudah. Banyak atlet yang sudah dibina dan berprestasi tiba-tiba memperkuat daerah lain dan daerah yang telah melakukan pembinaan ditinggal begitu saja," keluhnya. Kondisi tersebut, lanjutnya, sangat merugikan daerah, apalagi tidak ada kompensasi apapun. Oleh karena itu, perlu adanya aturan ketat yang mengatur transfer atlet agar tidak ada daerah yang dirugikan. Ketua PBSI Kota Malang Syaiful Rusdi juga mulai membidik tempat-tempat yang bisa dijadikan tempat latihan secara rutin oleh para pebulu tangkis di Kota Malang, selain di gedung di Jalan Bunga Lely. Salah satu yang menjadi bidikan PBSI adalah lantai empat Malang Olimpyc Garden (MOG)."Dalam perjanjian dengan Pemkot Malang, lantai empat MOG itu penggunaannya memang untuk fasilitas olahraga," ujar anggota DPRD Kota Malang tersebut. Menurut dia, selama ini latihan rutin bagi atlet bulu tangkis daerah itu menyewa beberapa gedung, di antaranya Gedung Rajbasa, Garuda dan gedung futsal di Sukun, namun ketiganya masih kurang layak. Sedangkan di lantai empat MOG cukup luas, bahkan cukup untuk sepuluh lapangan. "Kami akan mengusulkan ke KONI maupun Pemkot Malang untuk menempati area di MOG tersebut, demi mewujudkan Kota Malang sebagai barometer bulutangkis sekaligus menjadikan cabang olahraga itu sebagai olahraga unggulan seperti yang diingkan wali kota," tegasnya.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026