Bojonegoro - Pementasan teater Komunitas Suket Jombang Indonesia, Jatim, yang mengusung kisah Negeri "Sungsang" di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, Minggu (22/1) petang, mampu menghibur warga di desa setempat. "Ternyata teater mampu menghibur masyarakat pedesaan, terbukti penonton tidak pergi selama jalannya pergelaran, " kata Camat Temayang, Subiyono, usai pergelaran, Minggu (22/1). Ia mengatakan, selama ini, masyarakat pedesaan hanya tahu pertunjukan tari tayub atau dangdut, sehingga kehadiran pergelaran teater, menjadi sesuatu yang baru. "Soal warga pedesaan paham atau tidak, tidak ada masalah. Yang penting warga bisa mengenal teater dulu, " katanya dengan tersenyum. Selain itu, lanjutnya, pergelaran teater tersebut sebagai langkah mendorong berkembangnya Desa Jono, menjadi kawaan desa wisata budaya. Sebab, desa yang berada di wilayah selatan Bojonegoro itu, dua tahun terakhir dicanangkan sebagai desa wisata budaya. Sementara itu, pergelaran Negeri "Sungsang" besutan Lek Glagah Putih yang berdurasi satu jam itu berlangsung di sebuah balai rumah terbuka, tanpa panggung, sedangkan penonton yang sebagian besar warga pedesaan di desa setempat, menonton dengan duduk lesehan, dan berdiri. Sutradara teater Komunitas Suket Jombang Indonesia, Tjatur Budi Setyo , mengatakan, kisah yang dipentasksan tersebut melibatkan tujuh pemeran lakon dan 10 penabuh gamelan dan jaranan. Kisah Negeri Sunsang itu, berisi gambaran cara pemimpin Indonesia dalam menjalankan negeri, untuk memimpin rakyatnya. "Cara pemimpin negeri ini dalam mengurus negeri yang salah urus, di berbagai bidang, " katanya, mengambarkan. Menurut dia, selama ini, pementasan teater Komunitas Suket Jombang Indonesia, lebih memfokuskan tampil di wilayah pedesaan, tidak tampil di perkotaan. "Langkah kami ini, untuk mendekatkan diri kepada penonton. Jadi penonton bisa menonton sambil makan atau melakukan kegiatan lainnya, tidak ada larangan seperti pertunjukan teater di perkotaan, " ucapnya. Pementasan kisah Negeri Sungsang di Desa Jono, tambahnya, merupakan pertama kali dan sesuai jadwal juga dipentaskan di Desa Maibit, Kecamatan Soko, Tuban, Senin (24/1). Menyusul kemudian, kisah itu, juga di pentaskan di Blora, Jateng, pada 28 Januari. Kepala Desa Jono, Kecamatan Temayang, Dasuki menambahkan, sebagai langkah mendorong desanya menjadi desa wisata budaya, sebelum ini sudah dilakukan berbagai kegiatan kesenian, mulai karawitan anak-anak, ketoprak anak-anak, tari, juga pengembangkan kerajinan batik "jonegoroan" yang sudah melibatkan sekitar 200 perajin. Selain itu, lanjutnya, berbagai pertunjukan kesenian juga sering ditampilkan di desa setempat, termasuk kongres Bahasa Jawa 2011, juga dilaksanakan di desa setempat."Dukungan lainnya di desa kami berkembang tanaman sawo yang sudah panen beberapa kali, " katanya menjelaskan. (*)
Berita Terkait
Batik "Jonegoroan" Jadi Ajang Promosi Potensi Daerah
1 Oktober 2011 09:55
Shio-shio yang menurut pakar Feng Shui beruntung pada tahun Kuda Api
12 Februari 2026 09:56
Westlife sebut Indonesia sebagai "rumah kedua"
11 Februari 2026 04:38
LAMORA Kota Lama Surabaya sajikan menu lintas budaya saat Ramadhan 2026
10 Februari 2026 20:32
Karakter serial Harry Potter jadi tren dekorasi Imlek di China
10 Februari 2026 09:06
Berikut empat penyakit infeksi paru-paru yang mesti diwaspadai
9 Februari 2026 09:31
