Ngawi - Sebanyak 11 dari 19 kecamatan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, tergolong daerah rawan bencana selama musim penghujan yang berlangsung pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan. Kepala Badan Kesatuan Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol dan Linmas) Kabupaten Ngawi, Suryadi, Rabu, mengatakan, kecamatan rawan pada bencana musim hujan tersebut adalah Kecamatan Pangkur, Kwadungan, Ngawi, Geneng, Gerih, Mantingan, Pitu, Jogorogo, Ngrambe, Kendal, dan Sine. "Secara umum, semua kecamatan rawan terhadap bencana alam. Namun demikian, ada 11 wilayah yang hampir setiap tahun terkena bencana alam saat musim hujan. Data ini tidak banyak berubah jika dibandigkan tahun lalu," ujar Suryadi. Menurut dia, Kabupaten Ngawi termasuk wilayah yang rawan bencana, karena secara geografis, bagian dataran tingginya berada di lereng Gunung Lawu dan bagian dataran rendahnya merupakan wilayah pertemuan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. "Karena itu, warga masyarakat yang berdomisili di daerah rawan tersebut diminta untuk waspada. Terlebih saat musim hujan seperti ini," kata Suryadi. Ia menjelaskan, dari sejumlah kecamatan tersebut, wilayah yang terpetakan rawan bencana tanah longsor serta angin kencang adalah Kecamatan Jogorogo, Ngrambe, Sine, dan Kendal. Keempat kecamatan tersebut berada di lereng Gunung Lawu. Sedangkan kecamatan yang terpetakan rawan banjir antara lain, Kecamatan Pangkur, Kwadungan, Ngawi, Geneng, Gerih, Mantingan, dan Pitu. Wilayah kecamatan tersebut berada di aliran Bengawan Madiun dan Bengawan Solo. Bahkan, Kecamatan Pitu merupakan daerah dimana aliran Bengawan Madiun dan Bengawan Solo, bertemu. "Kami sudah siaga mengantisipasi datangnya banjir. Bahkan, Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam (Satlak PBA) Ngawi bersama pihak polres dan kodim setempat sudah melakukan latihan gabungan dan simulasi tentang penanganan bencana banjir," kata Suryadi yang juga menjabat sebagai Koordinator Satlak PBA Kabupaten Ngawi, ini. Pihaknya juga telah menyiapkan personel penyelamatan, tenaga medis, dan peralatan siaga bencana seperti perahu karet, tenda pengungsian, dapur umum, dan logistik yang diperlukan jika sewaktu-waktu bencana melanda. Hal lainnya yang dilakukan untuk mengantisipasi banjir akibat luapan sungai, di beberapa lokasi dekat Bengawan Solo dan Bengawan Madiun juga telah dipasang alat deteksi dini bencana banjir atau "early warning system". Alat tersebut dipasang di daerah Pangkur, Dumplengan Kecamatan Pitu, Klitik Kecamatan Geneng, Dungus Kecamatan Ngawi, dan Kwadungan. Data Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam (Satlak PBA) Ngawi, mencatat, bencana angin kencang pada musim hujan kali ini terjadi di Dusun Ngijo, Desa Macanan, Kecamatan Jorogo, yang merobohkan sebuah rumah hingga menewaskan seorang warga desa setempat. "Untuk bantuannya, kami telah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Dinas Sosial, Bakesbangpol dan Linmas, dan Satlak PBA Ngawi. Kami meminta warga di daerah rawan bencana untuk waspada saat hujan deras dan angin kencang berlangsung," kata Suryadi. (*)
Berita Terkait
Sore ini, Derbi Indonesia antara Persib vs Persija digelar
11 Januari 2026 12:39
ANTARA dukung TVRI gelar tayangan Piala Dunia 2026
9 Januari 2026 16:40
Sertijab Kepala LKBN ANTARA Biro Jawa Timur
6 Januari 2026 16:22
KUHP beri batasan jelas antara kritik dan penghinaan
3 Januari 2026 11:18
Antara Natal, tahun baru, dan kebersamaan di saat sulit
25 Desember 2025 15:14
Dewas ANTARA harap kinerja Biro Jatim terus tumbuh
17 Desember 2025 19:30
ANTARA terima penghargaan peran penyebaran informasi Kumham Imipas
17 Desember 2025 13:59
Konjen RRT-ANTARA Jatim masifkan penyebaran informasi positif dua negara
16 Desember 2025 19:45
