Oleh Fiqih Arfani Tulungagung - "Silahkan masuk dan lihat-lihat, mau mencoba juga boleh!" ucap salah seorang pegawai gerai "Batik Satrio Manah" menyapa ramah pengunjung. Batik Satrio Manah terletak di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Sepasang suami-istri, Puspito Soeryadmadi - Sriana menjadi pengusaha sukses melalui usaha yang digelutinya sejak 1982 silam. Keduanya memulai usaha dengan membuat batik "sewek". Secara perlahan namun pasti, mereka mengembangkan usahanya dengan membuat batik baju. "Awalnya kami membuat batik sewek dan bertahan beberapa tahun. Sejak membuat batik baju, usaha kami semakin berkembang," ujar Puspito Soeryadmadi. Keuletan dan keberhasilannya pun mulai dilirik pemerintah daerah. Tercatat sejak 2003, Satrio Manah dibina oleh Dinas Koperasi Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah Kabupaten Tulungagung. Namanya pun semakin meluas. Pegawainya pun semakin lama semakin bertambah. Mayoritas pekerjanya direkrut dari tetangga kanan kiri di sekitar tempat usaha Satrio Manah. Total ada 40 pegawai yang bekerja disana sekarang. Tidak hanya dikerjakan di tempat usaha, namun pembuatan dan produksi batik bisa dibawa pulang atau dikerjakan di rumah sendiri. "Kalau proses memasuki tahapan akhir atau tulis, bisa dikerjakan di rumah masing-masing kok. Jadi pekerja bisa santai, sekaligus menjaga rumahnya sambil bekerja," papar Sriana. Banyaknya pegawai itulah yang membuat Sriana enggan menerima pesanan batik cetak "printing". Selain tidak menjaga nilai tradisional, batik "printing" juga tidak bisa mempekerjakan banyak pegawai. "Batik 'printing' itu, cukup dikerjakan sedikit orang dan selesainya cepat. Meski kain seluas 1.000 meter persegi, namun lima orang bisa mengerjakan hanya dalam jangka waktu lima hari saja," ucapnya. "Ini juga bagian dari menjaga ketradisionalan dan nilai batik itu sendiri. Kelestarian batik asli harus selalu dijaga," tutur Sriana, menambahkan. Dikatakannya, produksi batiknya saat ini dirasa sudah membanggakan. Apalagi tidak sedikit pelanggannya berasal dari luar kota, bahkan luar negeri sekali pun, seperti Malaysia, Singapura, dan Hong Kong. Namun, yang menjadi kendala sampai saat ini adalah pembelian bahan dasar kain serta bahan baku yang masih harus membeli di luar kota. Akan tetapi beban itu sedikit berkurang dengan sudah lancarnya alat transportasi angkutan umum seperti kenyamanan kereta api dan "travel". "Kendalanya kan bahan material dan sejenisnya masih harus beli di Jawa Tengah. Syukurlah sekarang alat transportasi lebih lancar, sehingga sewaktu-waktu kebutuhan mendesak, bisa langsung dapat," jelasnya. Puspito kembali mengungkapkan, terkait permodalan yang di dapat, pihaknya mengaku sangat terbantu dengan adanya kredit usaha dari Pemerintah Provinsi Jatim, apalagi dengan bunga yang tidak lebih dari enam persen. Pihaknya berharap, ke depan sistem permodalan melalui pinjaman ke bank bisa lebih tinggi, sehingga perajin bisa lebih meningkatkan kualitas demi memajukan usahanya. "Kalau modalnya cukup, tentu perajin akan lebih berkreasi dan berinovasi. Imbasnya, kualitas lebih baik dan produksi menjadi meningkat," ucapnya. Pemerhati batik, Lulut Sri Yuliani, mengaku tidak setuju jika batik cap atau tulis disingkirkan oleh batik "printing". Menurut dia, meski batik "printing" memiliki pangsa pasar, namun tidak berarti batik itu boleh bermunculan. "Pasarnya memang ada, murah, dan bisa diproduksi banyak dalam jumlah yang cepat. Namun 'printing' menurut saya bukan batik, tapi tekstil motif baik," tandasnya. Peraih Kalpataru 2011 kategori perintis lingkungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut juga menegaskan, bahwa batik cap atau tulis lebih memiliki makna historis dan filosofis dibandingkan "printing". "Artinya, selain batik cap dan tulis, tidak memiliki sejarah yang tinggi. 'Printing' malah bisa dianggap mengacak-acak budaya yang sudah ada sejak dulu," tukas wanita berusia 46 tahun yang juga perajin batik mangrove tersebut. Hal lebih tegas diungkapkan Ketua Komisi B (bidang perekonomian) DPRD Jatim, Renville Antonio. Dikatakannya, batik "printing" tidak akan laku diperdagangkan di Indonesia. Ini karena, batik tulis lebih banyak dicari oleh pelanggan dan sudah diakui dunia. Karena itu tidak salah jika warga Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan beberapa negara lainnya sering ke Jawa Timur membeli batik. "Tidak akan laku batik 'printing' dijual. Sebab semua masyarakat menginginkan batik tulis. Selain lebih indah, juga memiliki nilai sejarah yang tidak bisa ditukar dengan uang berapa pun," ujarnya, menegaskan. Sosialisasi Pemerintah Legislator asal Partai Demokrat tersebut juga mengatakan, pihaknya secara khusus sudah meminta kepada Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Fattah Jasin agar memberikan kesempatan kepada perajin memamerkan hasil karyanya di Gedung Smesco, Jakarta. Di tempat itu, lanjut Renville, merupakan tempat pameran UKM se-Indonesia milik pemerintah. Bahkan, Provinsi Jawa Timur sendiri memiliki hampir satu lantai yang penuh diisi UKM-UKM dan potensi Jatim. Di sisi lain, anggota legislatif asal daerah pemilihan VI (Kabupaten/Kota Kediri, Blitar dan Tulungagung) tersebut juga mengapresiasi perkembangan batik di Jatim. Ia mengakui saat ini batik Jatim tidak kalah dengan batik Solo serta Pekalongan. "Bahkan di Tulungagung sendiri, batik yang corak dan warnanya khas sudah menjamur dan luar biasa perkembangannya. Tidak hanya di dalam negeri, tapi di luar negeri," ucap Renville. Untuk membangun dan membantu usaha perajin, kata dia, DPRD Jatim beserta Pemprov Jatim menyediakan bantuan berupa pinjaman modal di bank dengan bunga ringan. "Kami tidak memberikan bantuan uang, tapi menyediakan kredit murah di bank, semata-mata untuk memotivasi para pengrajin agar lebih mandiri," tutur politisi senior Partai Demokrat tersebut. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Pemprov Jatim, Fattah Jasin menjelaskan, perkembangan batik di provinsi ini meningkat antara 30-40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Bisa dilihat dari semakin banyaknya perajin dan penambahan ratusan motif maupun desain. Hal ini membuktikan batik menunjukkan perkembangan yang signifikan," katanya. Kendati demikian, pihaknya berjanji akan terus semakin mengembangkan usahanya dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta membuka seluas-luasnya jaringan usaha agar volume kualiatas semakin meningkat. "Di Jatim sekarang sudah tumbuh 4,3 juta unit UMKM. Pemprov akan berusaha meningkatkan jaringan dan peningkatan sumber daya mineral serta memfasilitasi usaha perkembangan koperasi dan UMKM," tandas Fattah Jasin. Sementara itu di Kabupaten Tulungagung, unit-unit UMKM khusus batik menjamur di sana. Sepuluh pengusaha di antaranya sudah memiliki nama besar dan omsetnya diatas puluhan juta rupiah. "Pengusaha batik dalam skala kecil memang cukup banyak, sedangkan yang bisa dikategorikan usaha besar ada sekitar 10 pengusaha," kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) Kabupaten Tulungagung, Edi Suyanto. Di Tulungagung sendiri, saat ini terdapat 31 ribu UMKM berbagai produk dan jenis. Keberhasilan mayoritas usaha membuat nilai kontribusi terhadap pemerintah daerah sangat terbantu. "Tahun 2010 saja kontribusinya mencapai 60 persen, atau naik 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya," tukas dia. (fiqifarfani@gmail.com)
Berita Terkait
Genera-Z mengabdi di Wonokitri demi menjaga warisan budaya Tengger
16 Juni 2025 13:17
Perjuangan nakes di Kota Surabaya demi menjaga masyarakat
15 Juli 2021 20:16
Bupati Banyuwangi nilai anak-anak saat ini lebih banyak bermain gawai
26 Juli 2025 19:13
Pedagang Pasar Nilai Plastik Berbayar Kurang Eefektif
23 Februari 2016 15:59
Harga Ikan Laut di Madiun Naik
25 Maret 2012 12:41
Disbudpar Bojonegoro Programkan Ekskavasi Situs Mlawatan
26 Desember 2011 20:26
KUHP beri batasan jelas antara kritik dan penghinaan
3 Januari 2026 11:18
Antara Natal, tahun baru, dan kebersamaan di saat sulit
25 Desember 2025 15:14
