Surabaya - Sejumlah pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Jawa Timur (Jatim) merasa kecewa lantaran angka penjualan bahan bakar khusus (BBK) turun. "Rata-rata penjualan BBK kami berkurang antara 1 persen hingga 1,5 persen per hari mengingat untuk menjualnya sebanyak 100 ribu liter per hari sangat sulit," kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Jatim, Hari Kristanto, ditanya terkait besaran penjualan BBK, di Surabaya, Sabtu. Ia menilai, sangat besarnya selisih harga antara bahan bakar minyak (BBM) subsidi dengan non subsidi (BBK) mempengaruhi pola pembelian pengguna BBK selama ini. "Kondisi tersebut mengakibatkan konsumen BBK beralih menggunakan BBM subsidi," ujarnya. Ia mencontohkan, saat ini harga pertamax terendah mencapai Rp8.550 per liter. Pemberlakuan tersebut ada selisih Rp4.050 per liter dengan premium. Kalau harga dex mencapai Rp9.300 per liter dan mengalami selisih harga Rp 4.800 per liter dengan solar. "Selain itu, kinerja penjualan BBK di berbagai titik strategis di sejumlah perkotaan minim misalnya di SPBU Manyar Kertoarjo Surabaya yang mampu mencapai rata - rata penjualan 500 liter per hari," katanya. Di lain tempat, ia mengemukakan, seperti di SPBU HR Muhammad Surabaya rata-rata penjualan hanya mencapai 300 liter per hari. Padahal, pekan lalu (13/8) bisa menjual 800 liter per hari sedangkan di SPBU lain rata - rata bisa menjual sekitar 150 liter per hari. Pihaknya berharap, Pertamina tidak memasukkan target penjualan BBK sebagai persyaratan menjadi SPBU Pasti Pas. "Apalagi, secara umum kini jumlah SPBU semakin banyak dan menyebar di berbagai titik di Jatim akibatnya penjualan dan labanya turun," katanya. Padahal, imbuh dia, realisasi penjualan BBM pada tahun lalu di tiap SPBU mampu menjual di atas 15 kiloliter per hari. Saat ini sulit mencapai angka tersebut menyusul penjualan per SPBU rata-rata kurang dari 15 kiloliter per hari. "Jika ada yang mencapai 15 kiloliter, kondisi itu hanya di kota besar misalnya Surabaya," katanya. Di sisi lain, lanjut dia, margin penjualan bagi pengusaha SPBU didapatkan sesuai jumlah liter yang dijual. Kalau SPBU pasti pas marginnya mencapai Rp205 per liter sedangkan nonpasti pas hanya Rp150 per liter. "Situasi itu dikarenakan jumlah SPBU sudah melebihi batas sehingga kian menyulitkan kami. Apalagi, tiap mendirikan SPBU modalnya bisa Rp4 miliar untuk investasi fisik dan bisa balik modal setelah 20 tahun," katanya.
Berita Terkait
Pertamina Patra Niaga pastikan distribusi BBM berjalan optimal
1 April 2026 10:26
Pertamina Patra Niaga pastikan layanan tambahan siap saat puncak balik Lebaran
28 Maret 2026 17:35
Harga BBM melonjak di Inggris, SPBU alami gangguan pasokan
28 Maret 2026 15:15
Polres Jember periksa tujuh saksi kasus penyelewengan BBM subsidi
18 Maret 2026 20:53
Legislator Jember pertanyakan pelepasan garis polisi di SPBU "nakal"
17 Maret 2026 08:40
Soal antrean di SPBU, Pertamina perkuat distribusi BBM
16 Maret 2026 13:52
Anggota DPR minta polisi usut tuntas penyelewengan BBM di Jember
15 Maret 2026 11:41
BPH Migas: Pertamina alihkan pasokan BBM di SPBU Jember yang disegel
15 Maret 2026 11:32
