Surabaya (ANTARA) - Posisi duduk yang keliru ternyata dapat mengganggu perkembangan tulang belakang anak, bahkan menjadi salah satunya akan berisiko skoliosis.
Dokter spesialis Ortopedi asal Siloam Hospitals Bogor, dr Peterson S SpOT(K), Sabtu malam, menjelaskan skoliosis adalah kondisi tulang belakang melengkung, seperti huruf C atau S.
"Jika tidak segera ditangani, hal itu akan mempengaruhi postur tubuh hingga mengalami gangguan jantung," ujarnya.
Skoliosis lebih sering ditemukan pada anak-anak sebelum masa pubertas, yaitu sekitar usia 10-15 tahun.
Skoliosis yang terjadi biasanya ringan, namun dapat berkembang menjadi lebih parah seiring pertambahan usia, khususnya pada wanita.
Baca juga: Kata dokter spesialis, ini langkah hilangkan dan sembuhkan keloid
Ia juga menyampaikan, cara mengetahui anak mengalami gejala dini Skoliosis adalah dengan menempatkan anak di ruangan luas dan sepi dengan lepas baju dan celana, namun tetap menjaga privasi dari pandangan orang lain.
Setelah itu, kata dia, minta anak berdiri tegak dan posisi orang tua di belakang punggung lalu di depan anak.
“Kemudian anak diminta membungkuk. Hal itu dilakukan dengan penilaian tentang kesejajaran bahu kedua sisi, kesejajaran tonjolan tulang belikat, kesejajaran lipatan pinggang, kesejajaran kedua siku dan kesejajaran pinggul,” ucap-nya.
Menurut dia, jika melihat adanya tanda tanda asimetris (ketidakseimbangan komposisi) dalam pemeriksaan orang tua, ada tiga tanda pada bahu, pada punggung dan tulang pinggul.
Sementara itu, dr Nur Indah Lestari SpKFR yang merupakan dokter rehabilitasi medis asal rumah sakit sama menambahkan klasifikasi skoliosis terbagi menjadi empat, yaitu Infantile (0-2 tahun), Juvenile (3-9 tahun), Adolescent (10-17 tahun), Adult (18 tahun ke atas).
"Faktor risiko skoliosis adalah jenis kelamin dan lebih dominan terjadi pada anak perempuan. Hal itu diduga karena faktor gen dan keturunan. Tahap pertumbuhan tulang, lokasi kurva, rotasi tulang belakang, dan riwayat keluarga," tutur-nya.
Menurut dr Nur, adanya penanganan skoliosis sejak dini bermanfaat pada peningkatan kualitas hidup, estetika, menghindari nyeri punggung, dan fungsi pernafasan tidak terganggu jika bertambah dewasa.
Baca juga: Polda Jatim dapat bantuan 5.000 APD dari RS Siloam Surabaya
"Sedangkan tujuan pengobatan atau pemulihan adalah untuk memperbaiki ketidakseimbangan otot, meningkatkan kekuatan otot, mengurangi nyeri, memperbaiki kontrol postur, memperbaiki fungsi respirasi, serta meningkatkan fleksibilitas,” ujarnya. (*)
