KCBI kenalkan gaya busana kekinian dengan kain tradisional ke mahasiswa

id Kcbi, ukwms, kain tradisional

KCBI kenalkan gaya busana kekinian dengan kain tradisional ke mahasiswa

Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) saat mengenalkan kain tradisional ke mahasiswa di kampus UKWMS, Jumat. (Kevin Constaniyo)

Kalau terbiasa memakai maka orang-orang akan mencari dan membeli ke perajin kain sehingga pendapatan mereka meningkat
Surabaya (ANTARA) - Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) mengenalkan gaya busana kekinian dengan media kain tradisional ke mahasiswa yang ada di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Jumat.

Ketua KCBI Surabaya, Windrati Wiworo mengatakan kegiatan pengelanan tersebut ke mahasiswi untuk meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap kain tradisional yang merupakan warisan budaya dari leluhur.

Windrati Wiworo mengatakan memakai kain-kain tradisional tersebut bisa dipakai dalam kegiatan sehari-hari jika dengan busana kekinian.

"Bisa dipakai bersamaan dengan celana jins atau legging serta atasan kaos sesuai dengan karakter berpakaian yang disukai" ujar Alumnus Akademi Sekretari Widya Mandala tersebut.

Pada kesempatan itu, Windrati menjelaskan tentang kain batik, tenun hingga songket dengan corak tradisional beserta dengan makna motifnya.

"Seperti kain Kebumen dengan motif batik burung melambangkan kecintaan terhadap flora dan fauna, motif batik Tambal Pamiluto yang bermakna harapan akan cinta yang terus melekat di hati dan masih banyak lagi," ucapnya.

Windrati menambahkan dengan mengenal kain-kain tradisional yang ada di Indonesia serta membudayakan berkain generasi muda dapat mengembangkan sektor ekonomi.

"Kalau terbiasa memakai maka orang-orang akan mencari dan membeli ke perajin kain sehingga pendapatan mereka meningkat," katanya.

Sementara itu Dekan Fakutas Vokasi UKWMS, Benedicta Muljani mengharapkan mahasiswi sebagai calon sekretaris dan akuntan melihat budaya berkain dapat menampilkan sisi profesionalitas.

Bene ingin menunjukkan bahwa warisan budaya Nusantara masih relevan hingga sekarang.

"Tidak harus mengacu pada budaya asing supaya terlihat modern," katanya.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar